Beberapa minggu terakhir, seorang pria berusia 60-an harus tidur dengan tumpukan bantal karena napasnya terasa pendek saat berbaring datar. Keluarganya mengira itu hanya tanda usia.
Keluhan seperti ini bisa berkaitan dengan edema paru, yaitu cairan yang menumpuk di paru. Bila muncul mendadak atau terasa berat, kondisi ini termasuk gawat darurat yang perlu segera ditangani di IGD.
Artikel ini membahas pengertian, tanda darurat, penyebab, gejala, hingga pemeriksaan dan pengobatan edema paru.
Memahami Edema Paru dan Jenisnya
Edema paru adalah penumpukan cairan berlebih di alveolus, yaitu kantong udara kecil di paru tempat oksigen masuk ke darah. Saat kantong udara terisi cairan, aliran oksigen terhambat dan napas terasa sesak.
Kondisi ini berbeda dari efusi pleura, yaitu cairan yang menumpuk di selaput pembungkus paru, meski efusi pleura bisa menjadi komplikasinya. Keluhannya mirip dengan kondisi yang awam sebut paru-paru basah, istilah yang biasanya merujuk ke pneumonia atau efusi pleura.
Sebagian besar kasus berasal dari masalah jantung (kardiogenik), sisanya dari kondisi di luar jantung (non-kardiogenik). Edema paru juga bisa muncul tiba-tiba (akut) atau berkembang perlahan (kronis).
Kapan Edema Paru Perlu Penanganan Darurat?
Edema paru yang muncul mendadak termasuk kondisi gawat darurat. Tandanya antara lain:
Sesak berat mendadak. Napas terasa tercekik atau seperti tenggelam, apalagi saat berbaring. Penderita bisa sulit bicara dalam satu kalimat utuh.
Napas berbunyi dan batuk berbuih. Napas terdengar seperti gelembung, mengi, atau tersengal. Dahaknya bisa berbuih, merah muda, atau bercampur darah.
Kulit kebiruan dan banyak berkeringat. Kulit bisa tampak kebiruan, keabu-abuan, atau pucat. Sesak juga bisa disertai keringat dingin yang banyak.
Gelisah, bingung, atau nyeri dada. Penderita bisa gelisah atau bingung. Tekanan darah yang turun drastis bisa membuat pusing. Dada juga bisa terasa sesak atau nyeri.
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD rumah sakit atau hubungi layanan gawat darurat. Mayo Clinic menganjurkan penderita tidak menyetir sendiri.
Keluhan ringan yang menetap, seperti sesak saat berbaring atau kaki bengkak, tetap perlu diperiksakan ke dokter.
Penyebab Edema Paru dari Jantung dan Luar Jantung
Dalam cara kerja jantung yang sehat, bilik kiri memompa darah kaya oksigen dari paru ke seluruh tubuh. Bila bilik kiri melemah, darah tertahan di pembuluh paru, dan tekanannya mendorong cairan ke kantong udara. Edema paru kardiogenik umumnya akibat gagal jantung, yaitu saat jantung tidak mampu memompa cukup darah bagi kebutuhan tubuh. Pemicunya antara lain:
Penyakit jantung koroner dan kardiomiopati. Pembuluh jantung yang menyempit, serangan jantung, kerusakan otot jantung (kardiomiopati), dan gangguan irama melemahkan pompa jantung. Infeksi atau tensi yang naik bisa menambah beban hingga cairan mengalir balik ke paru.
Masalah katup. Katup jantung yang menyempit atau bocor mengganggu aliran darah. Kebocoran yang muncul tiba-tiba bisa memicu edema paru berat.
Tekanan darah tinggi. Hipertensi yang tidak terkontrol bisa memicu pembengkakan jantung. Lonjakan tensi yang mendadak dan berat juga termasuk pemicu.
Penyakit ginjal. Ginjal yang terganggu membuat cairan menumpuk hingga membebani jantung. Cleveland Clinic menyebut penyakit ginjal kronis sebagai contoh yang umum.
Pada jenis non-kardiogenik, pembuluh darah paru meradang atau cedera sehingga bocor. Penyebabnya antara lain:
ARDS dan infeksi berat. Acute respiratory distress syndrome (ARDS) adalah cedera paru yang membuat paru mendadak terisi cairan, dan menjadi penyebab utama jenis ini. Kondisi ini bisa dipicu pneumonia, infeksi yang menyebar luas (sepsis), atau cedera berat.
Ketinggian. Pendaki yang naik terlalu cepat ke atas sekitar 2.400 meter bisa mengalami high-altitude pulmonary edema (HAPE). Tubuh perlu beberapa hari sampai minggu untuk beradaptasi.
Hampir tenggelam, asap, obat, dan virus. Air, asap, atau zat beracun yang terhirup, serta reaksi atau overdosis obat, termasuk narkoba, bisa memicunya. Virus dengue, bekuan darah di paru, dan cedera kepala juga tercatat sebagai penyebab.
Siapa yang Lebih Berisiko?
Faktor risiko gagal jantung ikut menaikkan risiko edema paru. Mayo Clinic mencatat berbagai penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, henti napas saat tidur (sleep apnea), dan alkohol sebagai faktor risiko. Cleveland Clinic menambahkan rokok, narkoba, kurang gerak, makanan tinggi garam dan lemak, usia 65 tahun ke atas, serta riwayat sakit jantung dalam keluarga.
Gejala Edema Paru, Mendadak atau Perlahan
Menurut Cleveland Clinic, gejala jenis kronis mirip jenis akut tetapi bisa lebih ringan. Keluhan yang umum antara lain:
1. Sesak saat beraktivitas atau berbaring
Sesak napas adalah keluhan utama. Sesak memburuk saat beraktivitas atau berbaring datar, sehingga sebagian orang butuh beberapa bantal untuk tidur.
2. Terbangun malam karena sesak
Penderita bisa terbangun satu sampai dua jam setelah tertidur karena napas terasa berat. Keluhan ini bisa membaik setelah duduk.
3. Batuk berbuih dan napas berbunyi
Batuk bisa mengeluarkan dahak berbuih putih atau merah muda, kadang bercampur darah. Napas juga bisa terdengar mengi atau bergemuruh.
4. Jantung berdebar dan cemas
Pada jenis akut, detak jantung bisa cepat dan tidak teratur. Penderita bisa merasa cemas atau gelisah dengan kulit dingin dan lembap.
5. Kaki bengkak dan berat badan naik
Cairan yang tertahan membuat kaki dan perut membengkak serta berat badan naik cepat. American Heart Association menyebut kenaikan berat badan mendadak bisa menandakan gagal jantung yang memburuk.
6. Mudah lelah
Rasa lelah membuat kegiatan seperti naik tangga atau berbelanja terasa berat. Kemampuan beraktivitas fisik juga menurun pada jenis kronis.
7. Gejala di ketinggian
Pada HAPE, sakit kepala bisa menjadi gejala pertama, disusul sesak dan batuk kering yang lama-lama berdahak berbuih kemerahan. Gejalanya cenderung memburuk di malam hari.
Apa Beda Edema Paru Kardiogenik dan Non-Kardiogenik?
Gambaran umum perbedaan keduanya sebagai berikut:
Gunakan tabel ini sebagai gambaran umum. Kepastian diagnosis datang dari pemeriksaan dokter.
Komplikasi yang Bisa Menyertai
Bila terus berlangsung, edema paru bisa menaikkan tekanan di pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal) hingga jantung melemah. Komplikasi lain meliputi kadar oksigen rendah, bengkak di kaki dan perut, cairan di selaput paru, dan pembengkakan hati. Pada kasus berat, kondisi ini bisa berujung gagal napas yang memerlukan ventilator.
Bagaimana Dokter Memeriksa Edema Paru?
Pada kasus mendadak, pemeriksaan dilakukan di IGD. Dokter mendengarkan paru dan jantung dengan stetoskop untuk mencari bunyi berderak dan suara jantung yang tidak biasa. Pemeriksaan lanjutan antara lain:
Kadar oksigen. Oksimetri nadi mengukur kadar oksigen dalam darah. Bila perlu, dokter menambah analisis gas darah.
Foto dada. Rontgen dada memperlihatkan cairan di paru dan ukuran jantung. CT scan dipakai bila perlu gambaran lebih detail.
Tes darah. Pemeriksaan bisa mencakup darah lengkap, elektrolit, dan fungsi ginjal. Penanda jantung seperti BNP dan troponin membantu menilai beban dan kerusakan otot jantung.
Rekam jantung. Elektrokardiogram (EKG) mencari tanda serangan jantung atau gangguan irama. Pemeriksaan ini cepat dan bisa dilakukan di samping tempat tidur.
USG jantung. Ekokardiografi menilai otot dan katup jantung. Hasilnya membantu membedakan penyebab dari jantung dan dari luar jantung.
Rontgen Dada, Pemeriksaan Awal yang Diminta Dokter
Cairan yang mengisi kantong udara tampak pada foto dada, sehingga rontgen dada adalah pemeriksaan awal yang dokter minta saat mencurigai edema paru. Di klinik Bumame, pemeriksaan ini tersedia sebagai Rontgen - Thorax, yang menurut halaman produknya membantu mengevaluasi penumpukan cairan di dalam paru dan pembesaran jantung. Pemeriksaan di klinik dilakukan sesuai arahan dokter. Bila muncul tanda darurat, foto dada dilakukan di IGD.
Bagaimana Edema Paru Diobati?
Menurut MedlinePlus, edema paru hampir selalu ditangani di IGD atau rumah sakit, kadang di ICU. Oksigen diberikan lewat selang hidung atau masker, dan pada kasus berat penderita dibantu ventilator. Obat golongan diuretik membuang kelebihan cairan lewat urine, sementara obat lain dipakai untuk mendukung kerja jantung atau menurunkan tekanan darah.
Penyebabnya juga perlu segera ditangani, misalnya serangan jantung atau katup yang bocor. Menurut Cleveland Clinic, dengan pengobatan yang berhasil, paru umumnya pulih dalam enam bulan sampai satu tahun.
Langkah Menurunkan Risiko Edema Paru
Risikonya bisa ditekan dengan mengelola penyakit yang sudah ada dan menjalani gaya hidup sehat, antara lain:
Kendalikan tensi dan kolesterol. Keduanya membantu menurunkan risiko penyakit jantung. Bila tensi sudah tinggi, jalankan cara menurunkan darah tinggi yang dianjurkan dokter.
Batasi garam. Pilih makanan rendah garam dan lemak. Berhenti merokok, batasi alkohol, dan rutin berolahraga.
Kontrol penyakit jantung dan ginjal. Minum obat sesuai arahan dokter. Penderita gagal jantung juga dianjurkan memantau berat badan dan melaporkan perubahan mendadak.
Naik ke ketinggian bertahap. Beri tubuh waktu beradaptasi (aklimatisasi). Menurut Mayo Clinic, banyak ahli menyarankan naik tidak lebih dari 300 sampai 360 meter per hari di atas sekitar 2.500 meter.
Rawat Jantung, Napas Tetap Lega
Mengenali tanda darurat membantu Anda dan keluarga bertindak cepat. Tensi terkendali, makanan rendah garam, dan kontrol rutin membantu menurunkan risikonya. Lebih awal diketahui, lebih banyak yang bisa dilakukan.
Untuk pertanyaan umum seputar pemeriksaan jantung dan paru di luar kondisi darurat, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
National Heart, Lung, and Blood Institute. Heart Failure - What Is Heart Failure? Retrieved 23 September 2026 from https://www.nhlbi.nih.gov/health/heart-failure
MedlinePlus. Pulmonary edema: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 23 September 2026 from https://medlineplus.gov/ency/article/000140.htm
StatPearls, NCBI Bookshelf. Pulmonary Edema. Retrieved 23 September 2026 from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557611/
Cleveland Clinic. Pulmonary Edema: Causes, Symptoms & Treatment. Retrieved 23 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24218-pulmonary-edema
Mayo Clinic. Pulmonary edema - Symptoms & causes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pulmonary-edema/symptoms-causes/syc-20377009
American Heart Association. Heart Failure Signs and Symptoms. Retrieved 23 September 2026 from https://www.heart.org/en/health-topics/heart-failure/warning-signs-of-heart-failure
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Edema paru adalah penyakit apa?
Apa beda edema paru dan efusi pleura?
Pada edema paru, cairan mengisi kantong udara di dalam paru. Pada efusi pleura, cairan menumpuk di selaput yang membungkus paru, dan kondisi ini bisa menjadi komplikasi edema paru.
Apa penyebab edema paru yang umum?
Kebanyakan kasus disebabkan masalah jantung, khususnya gagal jantung. Penyebab lain antara lain ARDS, infeksi berat, ketinggian, hampir tenggelam, menghirup asap, dan reaksi obat.
