Setiap bangun tidur, seorang anak berjalan pincang dan enggan menekuk lutut. Menjelang siang ia kembali berlari, sehingga orang tuanya mengira ia hanya pegal.
Keluhan seperti ini bisa berasal dari penyakit autoimun, yaitu kondisi saat sistem imun keliru menyerang tubuh sendiri. Anak dan remaja juga bisa mengalaminya, dan penanganan sejak awal membantu mereka tetap tumbuh, bersekolah, dan bermain.
Artikel ini membahas penyebab, faktor risiko, dan tanda autoimun pada anak, cara dokter memastikannya, hingga pengobatannya.
Apa Itu Penyakit Autoimun pada Anak?
Sistem imun melindungi tubuh dari kuman. Pada penyakit autoimun, sistem ini keliru menyerang sel sehat pada organ dan jaringan tubuh sendiri. MedlinePlus mencatat lebih dari 80 jenisnya, dan hampir semua bagian tubuh bisa terkena. Penyakit ini tidak menular, berlangsung jangka panjang, dan gejalanya bisa kambuh lalu mereda.
Beberapa yang bisa dialami anak antara lain artritis idiopatik juvenil atau JIA, diabetes tipe 1, lupus, penyakit celiac, tiroiditis autoimun, dan psoriasis. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), JIA adalah jenis radang sendi kronis yang umum pada anak, dan sebagian besar terdiagnosis di usia 2 sampai 5 tahun. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menyebut diabetes tipe 1 sebagai jenis diabetes yang umum pada anak.
Penyebab Autoimun pada Anak dan Pemicunya
Hingga kini, pemicu serangan sistem kekebalan terhadap tubuh sendiri pada anak umumnya belum diketahui secara jelas. Dugaan sejauh ini mengarah pada gabungan faktor berikut.
1. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Penyakit autoimun cenderung menurun dalam keluarga karena gen tertentu membuat anak lebih rentan. Johns Hopkins Medicine mengaitkan JIA dengan penanda gen HLA-DR4. IDAI juga menyebut faktor genetik dan proses autoimun sebagai penyebab utama diabetes tipe 1.
2. Pemicu dari Lingkungan, Termasuk Infeksi Tertentu
Pada anak yang rentan, faktor lingkungan diduga menjadi pemicunya. Cleveland Clinic mencatat infeksi virus, misalnya Epstein-Barr dan COVID-19, serta bahan kimia sebagai kemungkinan pemicu. Untuk lupus, IDAI menyebut sinar matahari dan obat-obatan. Menurut AAP, pemicu JIA pada tiap anak biasanya tidak pernah ditemukan.
3. Hormon dan Jenis Kelamin
Banyak penyakit autoimun lebih sering dialami perempuan. IDAI mencatat lupus lebih banyak mengenai anak perempuan, terutama di usia pubertas, dan menyebut hormon sebagai salah satu faktornya. Pada JIA, radang sendi punggung bawah yang terkait penanda gen HLA-B27 justru lebih sering pada anak laki-laki yang lebih besar.
4. Faktor Lain yang Masih Diteliti
Peneliti masih mempelajari pemicu serangan sistem imun ini, sehingga Cleveland Clinic menyebut mungkin belum ada cara mencegahnya. AAP pun menegaskan orang tua tidak bisa mencegah JIA, jadi tidak perlu menyalahkan diri.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalaminya?
Kondisi berikut membuat peluang anak mengalami penyakit autoimun lebih besar:
Riwayat keluarga. Risiko lebih tinggi bila orang tua, kakek-nenek, atau kerabat lain memiliki penyakit autoimun. Sampaikan riwayat ini kepada dokter anak.
Sudah memiliki satu penyakit autoimun. Kondisi ini meningkatkan peluang munculnya penyakit autoimun lain. Sampaikan keluhan baru saat kontrol.
Anemia hemolitik autoimun dengan transfusi darah berulang. IDAI meminta orang tua mewaspadai kondisi ini. Banyak anak dengan anemia hemolitik autoimun, yaitu kerusakan sel darah merah oleh sistem imun, kemudian didiagnosis lupus.
Tanda Autoimun pada Anak yang Perlu Diperhatikan
Gejala penyakit autoimun bergantung pada bagian tubuh yang diserang dan sering mirip penyakit lain. Karena itu, dokter anak menilai pola, kombinasi, dan lamanya keluhan. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Lelah dan Demam yang Terus Kembali
Anak yang biasanya aktif menjadi lesu dan cepat letih. Pada lupus, IDAI menggambarkan demam ringan yang hilang timbul berminggu-minggu tanpa penyebab yang jelas, sedangkan JIA tipe sistemik bisa menimbulkan demam tinggi disertai ruam.
2. Sendi Bengkak, Kaku, atau Anak Berjalan Pincang
Menurut AAP, bengkak pada radang sendi anak menetap sepanjang hari, dan kakunya terasa di pagi hari atau setelah lama duduk. Nyerinya sering ringan sehingga anak kecil bisa tidak mengeluh, jadi perhatikan bila ia mulai pincang, sulit memegang krayon, atau berhenti memanjat saat bermain.
3. Ruam Kulit yang Tidak Biasa
Pada lupus, ruam bisa muncul di wajah berbentuk seperti sayap kupu-kupu, dan kulit mudah memerah bila terkena sinar matahari. Sebagian anak dengan radang sendi juga mengalami psoriasis, yaitu penyakit kulit berupa bercak merah bersisik.
4. Nafsu Makan Turun dan Pertumbuhan Melambat
Johns Hopkins Medicine mencatat anak dengan JIA bisa kurang nafsu makan, sulit naik berat badan, dan tumbuh lebih lambat. Pada penyakit celiac yang menyerang saluran cerna, keluhannya bisa berpusat di perut. Berat dan tinggi badan yang tidak bertambah sesuai grafik termasuk tanda gangguan tumbuh kembang.
5. Sering Haus dan Sering Buang Air Kecil
IDAI menyebut gejala khas diabetes pada anak berupa banyak makan, banyak minum, dan sering buang air kecil, kadang disertai mengompol. Gejala ini sering samar sehingga diagnosis kerap terlewat. Pada remaja, keluhan yang sama termasuk ciri-ciri diabetes di usia muda.
6. Bengkak di Kelopak Mata dan Tungkai
Bila bengkak di kelopak mata dan tungkai bawah disertai buang air kecil yang lebih sedikit, IDAI meminta orang tua mewaspadai gangguan ginjal pada anak akibat lupus. Lupus juga bisa mengenai paru dan jantung sehingga anak sesak napas atau nyeri dada.
Penyakit Autoimun pada Anak dan Organ yang Diserang
Tabel ini merangkum gambaran umum. Kebutuhan tiap orang bisa berbeda, jadi bicarakan dengan dokter.
Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?
Periksakan anak Anda ke dokter anak bila lelah, demam, nyeri sendi, atau ruam berlangsung berminggu-minggu atau terus kembali tanpa sebab yang jelas. Begitu pula bila anak mulai pincang, sering haus dan sering buang air kecil, atau keluhannya makin sering kambuh setelah terdiagnosis.
Segera ke IGD bila anak sesak napas, nyeri dada, muntah berulang dengan atau tanpa nyeri perut, tampak kekurangan cairan, atau mengantuk berat hingga sulit dibangunkan. IDAI menyebut sebagian keluhan ini sebagai tanda kegawatan diabetes.
Bagaimana Dokter Anak Memastikan Diagnosis?
Umumnya tidak ada satu tes tunggal untuk memastikan penyakit autoimun pada anak. MedlinePlus menyebut prosesnya bisa butuh waktu dan beberapa kali kunjungan. Langkah yang biasa dijalani meliputi:
Riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Dokter menanyakan awal keluhan, penyakit yang baru dialami, dan riwayat keluarga. Lalu dokter memeriksa sendi, kulit, dan organ lain.
Tes darah pilihan dokter. Pilihannya antara lain tes ANA (antinuclear antibody) dan antibodi lain, hitung darah lengkap, serta penanda peradangan seperti laju endap darah dan CRP. AAP mengingatkan hasil laboratorium anak dengan JIA bisa saja normal.
Tes urine dan pencitraan. Tes urine mencari darah atau protein yang menandakan gangguan ginjal. Foto rontgen, USG, atau MRI membantu menilai sendi dan organ lain.
Rujukan ke subspesialis. Dokter anak bisa merujuk ke subspesialis sesuai organ yang terlibat. Anak dengan JIA juga perlu pemeriksaan mata berkala oleh dokter mata karena radang di dalam mata atau uveitis sering tanpa gejala.
Untuk JIA, Johns Hopkins Medicine menyebut radang sendi perlu berlangsung setidaknya 6 minggu, dan ambang diagnosis ditentukan oleh dokter. Pemeriksaan sebaiknya dimulai dari konsultasi karena pilihan tes bergantung pada keluhan anak.
Pengobatan untuk Mengendalikan Peradangan dan Sistem Imun
Penyakit autoimun umumnya berlangsung jangka panjang, tetapi gejalanya bisa dikendalikan hingga remisi, yaitu masa panjang tanpa kekambuhan. Dokter, dibantu tim seperti dokter mata dan terapis fisik, menyesuaikan pilihan berikut dengan jenis penyakitnya:
Obat antiradang dan kortikosteroid. Keduanya meredakan nyeri, bengkak, dan peradangan. Pada JIA, kortikosteroid kadang disuntikkan langsung ke sendi.
Obat yang menekan sistem imun. Golongan ini, termasuk obat biologik, dipakai bila penyakit perlu dikendalikan lebih kuat. Dokter akan menjelaskan manfaat dan efek sampingnya.
Terapi sesuai penyakitnya. Diabetes tipe 1 membutuhkan insulin seumur hidup, ditambah pengaturan makan dan olahraga. Anak dengan penyakit celiac perlu menghindari gluten, yaitu protein pada gandum, sesuai arahan dokter.
Perawatan lupus. IDAI menganjurkan kontrol rutin hingga remisi, menghindari sinar matahari langsung, membatasi makanan tinggi garam, dan mengelola stres. Pengobatannya bisa berlangsung bertahun-tahun.
Mendampingi Anak Hidup dengan Penyakit Autoimun
Johns Hopkins Medicine mencatat hampir separuh anak dengan JIA pulih sepenuhnya, berbeda dengan rheumatoid arthritis pada orang dewasa yang umumnya menetap. Beberapa langkah yang membantu anak:
Libatkan sekolah. Beri tahu guru tentang kondisi dan obat anak. Anak dengan lupus, misalnya, perlu terlindung dari terik matahari saat upacara atau olahraga.
Tetap aktif. Olahraga teratur dan latihan dari terapis menjaga kekuatan otot dan kelenturan sendi. Usahakan juga anak cukup tidur.
Diskusikan imunisasi dan obat lain. Sebagian pengobatan autoimun menekan sistem imun, sehingga jadwal vaksinasi anak perlu dibicarakan dengan dokter. Tanyakan juga sebelum memberi obat bebas atau suplemen baru.
Jaga jadwal kontrol. Kontrol berkala membantu dokter memantau pertumbuhan, tulang, dan mata anak. Kelompok dukungan juga membantu anak merasa tidak sendirian.
Kenali Tandanya dan Catat Keluhan Anak Sejak Awal
Penyebab autoimun pada anak masih diteliti, sementara tandanya bisa dikenali sejak awal. Catat keluhan yang terus kembali, lalu bawa catatan itu saat Anda berkonsultasi dengan dokter anak. Kepastian lebih awal memberi lebih banyak pilihan untuk melangkah.
Untuk pertanyaan umum seputar layanan Bumame, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
HealthyChildren.org (AAP). Juvenile Idiopathic Arthritis. Retrieved 23 September 2026 from https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/chronic/Pages/Juvenile-Idiopathic-Arthritis.aspx
Johns Hopkins Medicine. Juvenile Idiopathic Arthritis. Retrieved 23 September 2026 from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/juvenile-idiopathic-arthritis
Cleveland Clinic. Autoimmune Diseases: Types, Symptoms & Treatments. Retrieved 23 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21624-autoimmune-diseases
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kenali Lebih Dini Gejala Lupus pada Anak. Retrieved 23 September 2026 from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kenali-lebih-dini-gejala-lupus-pada-anak
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Diabetes Mellitus pada Anak dan Remaja. Retrieved 23 September 2026 from https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/diabetes-mellitus-pada-anak-dan-remaja
MedlinePlus. Autoimmune Diseases | Autoimmune Disease Symptoms. Retrieved 23 September 2026 from https://medlineplus.gov/autoimmunediseases.html
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
Frequently Asked Question
Apa penyebab autoimun pada anak?
Apa saja ciri-ciri autoimun pada anak?
Apakah autoimun pada anak bisa dicegah?
Tes apa yang dipakai untuk mendeteksi autoimun pada anak?
Umumnya tidak ada satu tes tunggal. Dokter menggabungkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan tes pilihan seperti ANA, penanda peradangan, tes urine, atau pencitraan sesuai keluhan anak.
