Kondisi anak yang mudah lelah, kurang bersemangat, atau sulit berkonsentrasi masih sering diremehkan oleh banyak orang tua karena termasuk kondisi umum yang bisa dialami kapan saja. Padahal, gejala tersebut bisa mengarah kepada kemungkinan kondisi medis tertentu, salah satunya adalah kekurangan zat besi.
Apa itu Kekurangan Zat Besi?
Kekurangan zat besi merujuk pada kondisi tubuh yang tidak memiliki cukup zat besi untuk memenuhi kebutuhan harian, seperti pembentukan hemoglobin, mendukung perkembangan otak, fungsi otot, dan sistem kekebalan tubuh.
Pada anak, memenuhi kebutuhan zat besi sangat penting untuk mendukung pertumbuhan anak yang berlangsung cepat. Jika asupannya kurang atau tidak mencukupi, maka pertumbuhan anak bisa melambat hingga berisiko mengalami stunting dan menuntun pada kondisi anemia defisiensi besi.
Apa Perbedaan Kekurangan Zat Besi dan Anemia Defisiensi Besi?
Hingga hari ini, masih banyak orang awam yang masih memahami kekurangan zat besi adalah kondisi yang sama dengan anemia defisiensi besi. Padahal, keduanya adalah dua kondisi yang berbeda.
Kekurangan zat besi bisa terjadi saat cadangan zat besi dalam tubuh mulai menipis, meskipun kadar hemoglobin masih berada dalam rentang normal. Jika kondisi tersebut berlanjut hingga mengganggu pembentukan dan menurunkan kadar hemoglobin di bawah batas normal, maka anak bisa mengalami anemia defisiensi besi.
Dengan kata lain, kekurangan asupan zat besi adalah kondisi yang bisa menyebabkan anemia defisiensi besi. Keduanya perlu dikenali agar penanganan bisa dilakukan sebelum berdampak lebih jauh pada kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Penyebab Anak Kekurangan Zat Besi
Pada kasus anak, ada beberapa faktor penyebab yang bisa menuntun pada kondisi kekurangan asupan zat besi. Berikut ini penjelasannya.
1. Asupan Zat Besi Tidak Mencukupi
Anak yang mengonsumsi makanan dengan variasi terbatas bisa kesulitan memenuhi kebutuhan zat besinya. Risiko ini bisa meningkat jika menu harian mereka jarang mengandung daging, ikan, telur, kacang-kacangan, atau makanan yang difortifikasi dengan zat besi.
2. Pertumbuhan yang Berlangsung Cepat
Pertumbuhan bayi dan anak balita yang umumnya berlangsung cepat membuat kebutuhan zat besi harian melonjak tajam. Kebutuhan zat besi untuk anak perlu dipenuhi melalui asupan yang sesuai dengan usia.
Jika tidak terpenuhi, maka bisa menuntun pada kondisi kekurangan zat besi, bahkan hingga anemia defisiensi besi. Bayi dengan kondisi prematur atau memiliki berat badan lahir rendah juga berisiko mengalami kondisi ini.
3. Pola Konsumsi Susu Sapi yang Berlebihan
Kebiasaan mengonsumsi susu sapi dalam jumlah berlebihan bisa membuat anak lebih kenyang, sehingga asupan makanan kaya zat besi berkurang. Meskipun susu sapi juga mengandung zat besi, tapi jumlahnya tergolong rendah, sehingga anak tetap perlu mengonsumsi makanan pendamping yang mengandung zat besi
4. Gangguan Penyerapan Zat Besi
Beberapa kondisi pada saluran pencernaan, seperti penyakit Celiac atau peradangan usus tertentu, bisa mengganggu penyerapan zat besi. Akibatnya, anak bisa tetap mengalami kekurangan asupan zat besi meskipun makanannya sudah cukup.
5. Kehilangan Darah
Kehilangan darah berulang bisa mengurangi cadangan zat besi dalam tubuh. Pada remaja perempuan, menstruasi dengan perdarahan berlebihan adalah salah satu faktor risiko yang bisa menyebabkannya. Dokter juga bisa menilai kemungkinan perdarahan saluran cerna jika terdapat petunjuk yang mengarah ke kondisi tersebut.
Ciri Anak Kekurangan Zat Besi
Defisiensi zat besi pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun, ketika cadangan zat besi semakin menurun atau gejala anemia mulai berkembang, beberapa tanda bisa muncul, di antaranya adalah:
Mudah lelah dan kurang aktif: Anak terlihat cepat kehabisan energi saat bermain atau melakukan aktivitas sehari-hari;
Kulit tampak pucat: Kepucatan bisa terlihat pada wajah, bagian dalam kelopak mata, atau telapak tangan, terutama ketika anemia sudah terjadi;
Sulit berkonsentrasi: Anak bisa mengalami kesulitan berkonsentrasi atau memperhatikan pelajaran;
Nafsu makan menurun: Sebagian anak mengalami perubahan pola makan, meskipun keluhan ini juga bisa terjadi oleh kondisi lain;
Mudah rewel: Anak mungkin menjadi lebih mudah tersinggung atau menunjukkan perubahan perilaku;
Pertumbuhan terganggu: Kekurangan asupan zat besi yang berlangsung lama bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak;
Keinginan mengkonsumsi benda yang bukan makanan: Sebagian anak menunjukkan perilaku pica, yaitu keinginan memakan benda seperti tanah, es batu, atau kapur.
Diagnosis Anak Kekurangan Asupan Zat Besi
Untuk menilai apakah anak mengalami kekurangan zat besi atau tidak, dokter umumnya akan melakukan beberapa tahap diagnosis berikut ini.
1. Wawancara Medis dan Pemeriksaan Fisik
Dokter akan menanyakan kebiasaan makan anak, pola konsumsi susu, riwayat kelahiran prematur, pola pertumbuhan, dan keluhan yang dialami. Dokter juga bisa memeriksa sejumlah tanda seperti kulit pucat, pertumbuhan yang kurang optimal, atau gejala lain yang mengarah pada anemia.
2. Pemeriksaan Darah Lengkap
Pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count/CBC) bisa membantu menilai kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah, serta ukuran dan karakteristik sel darah merah. Hasil pemeriksaan darah ini bisa memberi petunjuk adanya anemia, termasuk anemia yang sering berkaitan dengan kekurangan zat besi.
3. Pemeriksaan Ferritin
Ferritin adalah protein yang menyimpan zat besi. Pemeriksaan ferritin bisa memberi gambaran apakah cadangan zat besi tubuh menurun, bahkan sebelum anemia berkembang.
Di sini, dokter bisa mempertimbangkan pemeriksaan bersama hasil darah lengkap. Jika perlu, dokter bisa meminta pemeriksaan tambahan, seperti serum iron, TIBC (total iron-binding capacity), atau pemeriksaan lain untuk mencari penyebab defisiensi zat besi.
Komplikasi Anak Kekurangan Asupan Zat Besi
Kekurangan asupan zat besi yang tidak mendapatkan penanganan tepat dalam waktu lama bisa berkembang menjadi anemia defisiensi besi. Dalam kondisi tersebut, kemampuan darah mengangkut oksigen akan berkurang, sehingga anak rentan mengalami kelelahan, kelemahan, dan penurunan kemampuan beraktivitas.
Pada bayi dan anak balita, kekurangan asupan zat besi yang berkepanjangan juga bisa menuntun pada gangguan perkembangan kognitif dan kemampuan belajar. Pasalnya, zat besi berperan dalam perkembangan otak.
Meski demikian, dampak kondisi ini bergantung pada tingkat keparahan, durasi kekurangan, usia anak, serta faktor kesehatan lainnya. Penanganan sejak dini bisa membantu memperbaiki status zat besi dan mengurangi risiko dampak jangka panjang.
Cara Mengatasi Anak Kekurangan Zat Besi
Penanganan kondisi ini pada dasarnya perlu disesuaikan dengan usia, tingkat kekurangan, penyebab, dan indikasi anemia. Penanganan umumnya mencakup perbaikan pola makan, pemberian suplemen, dan penanganan penyebab kondisi.
1. Berikan Makanan Kaya Zat Besi
Pastikan menu harian anak mencakup sumber zat besi yang beragam, seperti:
Daging sapi tanpa lemak dan ayam;
Ikan dan makanan laut;
Telur;
Kacang-kacangan dan lentil;
Tahu dan tempe;
Sayuran hijau; dan
Sereal bayi atau makanan lain yang difortifikasi dengan zat besi.
Di sini, ada dua macam zat besi yang sebaiknya Anda cukupi, yaitu zat besi heme, yang berasal dari daging dan makanan laut, dan zat besi non heme, yang ada pada tumbuhan.
2. Kombinasikan dengan Makanan Sumber Vitamin C
Vitamin C bisa membantu proses penyerapan zat besi non heme yang terkandung dalam makanan. Oleh karena itu, Anda bisa menyajikan sumber zat besi nabati bersama buah atau sayuran yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, pepaya, tomat, atau brokoli.
3. Atur Konsumsi Susu sesuai Usia
Pada anak-anak, konsumsi susu sapi berlebihan bisa mengurangi kesempatan untuk mengonsumsi makanan kaya zat besi. Oleh karena itu, Anda sebaiknya mengatur porsinya sesuai kebutuhan dan usia anak. Konsultasikan dengan dokter jika Anda ragu mengenai jumlah yang tepat.
Untuk bayi di bawah satu tahun, gunakan ASI atau susu formula bayi yang difortifikasi zat besi sesuai kebutuhan. Jangan memberi susu sapi sebagai minuman utama pengganti ASI atau susu formula sebelum usia 12 bulan.
4. Berikan Suplemen jika Direkomendasikan Dokter
Jika pemeriksaan menunjukkan kekurangan zat besi atau anemia defisiensi besi, dokter bisa merekomendasikan suplemen zat besi dengan dosis sesuai berat badan dan kondisi anak.
Sebagai catatan, jangan sembarangan memberi suplemen tanpa konsultasi dokter, karena kebutuhan setiap anak umumnya berbeda. Selain itu, kelebihan zat besi bisa menyebabkan efek samping berupa hemokromatosis hingga bahkan keracunan serius jika tertelan dalam jumlah berlebihan.
5. Tangani Penyebab yang Mendasari
Jika defisiensi zat besi terjadi karena gangguan penyerapan atau kehilangan darah, perbaikan pola makan saja mungkin tidak cukup. Namun, jika gejala tidak membaik atau bahkan terus berulang, maka Anda sebaiknya memeriksakannya ke dokter.
Cara Mencegah Kekurangan Zat Besi pada Anak
Pencegahan kondisi kurangnya zat besi pada anak sebenarnya bisa Anda mulai membangun kebiasaan makan yang baik. Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk memulainya, yaitu:
Perkenalkan makanan kaya zat besi sejak MPASI sesuai tahap perkembangan. Sekitar usia 6 bulan, bayi mulai membutuhkan sumber zat besi dari makanan pendamping yang sesuai tahap perkembangannya;
Variasikan menu harian. Gabungkan sumber protein hewani dan nabati agar kebutuhan zat gizi lebih mudah terpenuhi;
Perhatikan kelompok berisiko. Bayi prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah, anak yang sangat selektif terhadap makanan, dan remaja perempuan dengan menstruasi berat mungkin membutuhkan evaluasi khusus;
Pantau pertumbuhan anak. Pemeriksaan rutin membantu dokter menilai perkembangan dan mempertimbangkan pemeriksaan anemia sesuai usia serta faktor risiko; dan
Konsultasikan kebutuhan suplemen. Jangan memberi suplemen zat besi sebagai tindakan pencegahan tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan rekomendasi tenaga medis.
Membantu Evaluasi Kondisi Darah untuk Pantau Kecukupan Zat Besi
Ketika anak menunjukkan gejala mudah lelah, pucat, atau kurang bertenaga, pemeriksaan darah bisa membantu menilai apakah terdapat anemia dan menentukan pemeriksaan lanjutan yang dibutuhkan. Di sini, Bumame bisa memenuhi kebutuhan pemeriksaan darah ini.
Bumame menyediakan Paket Anemia yang mencakup pemeriksaan hematologi lengkap, retikulosit, serum iron (Fe), dan TIBC. Pemeriksaan ini bisa memberi informasi mengenai komponen darah, produksi sel darah merah, serta parameter yang berkaitan dengan metabolisme zat besi. Dengan pemeriksaan yang tepat, Anda bisa memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi anak dan mendapatkan penangan yang tepat.
Kapan Harus ke Dokter?
Kekurangan zat besi pada anak adalah salah satu kondisi yang tidak boleh Anda anggap remeh. Pasalnya, tanpa penanganan tepat, kondisi ini bisa menuntun pada sejumlah risiko kesehatan lebih serius, seperti gangguan pertumbuhan hingga melemahnya sistem imun.
Oleh karena itu, pertimbangkan untuk langsung bawa anak ke dokter jika ia terlihat pucat, mudah lelah, kehilangan nafsu makan dalam waktu lama, mengalami gangguan pertumbuhan, atau menunjukkan penurunan kemampuan belajar dan beraktivitas. Konsultasi juga penting jika anak memiliki faktor risiko, seperti lahir prematur, pola makan sangat terbatas, atau menstruasi berlebihan pada remaja.
Di sini, dokter bisa menentukan apakah pemeriksaan darah diperlukan dan apakah anak membutuhkan suplemen zat besi. Segera cari pertolongan medis jika anak mengalami gejala akut, seperti sesak napas berat, pingsan, sangat lemah, atau tampak mengalami penurunan kesadaran.
Penuhi Kebutuhan Zat Besi untuk Mendukung Tumbuh Kembang Anak
Kekurangan zat besi pada dasarnya bisa terjadi sebelum anemia muncul, sehingga gejalanya terkadang sulit dikenali. Memastikan anak mendapat makanan kaya zat besi, mengkombinasikannya dengan sumber vitamin C, dan memantau pertumbuhan adalah salah satu langkah untuk memastikan kebutuhan mineral ini terpenuhi.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Iron: Infant and Toddler Nutrition
American Academy of Pediatrics (AAP) — Iron Deficiency & Iron Deficiency Anemia: AAP Updates Screening, Prevention & Treatment Guidance
National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements (NIH ODS) — Iron: Fact Sheet for Health Professionals
Bumame — Anemia
Bumame — Medical Check Up Plus
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
Frequently Asked Question
Apa saja tanda anak kekurangan zat besi?
Tandanya dapat berupa mudah lelah, kulit pucat, sulit berkonsentrasi, nafsu makan menurun, mudah rewel, gangguan pertumbuhan, dan keinginan memakan benda yang bukan makanan. Pada tahap awal, kondisi ini bisa tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Apa penyebab anak kekurangan zat besi?
Penyebabnya meliputi asupan zat besi yang tidak mencukupi, pertumbuhan yang cepat, konsumsi susu sapi berlebihan, gangguan penyerapan zat besi, dan kehilangan darah.
Makanan apa yang baik untuk anak yang kekurangan zat besi?
Berikan makanan kaya zat besi seperti daging sapi, ayam, ikan, telur, kacang-kacangan, lentil, tahu, tempe, sayuran hijau, dan sereal yang difortifikasi zat besi. Kombinasikan sumber zat besi nabati dengan makanan kaya vitamin C untuk membantu penyerapannya.
Bagaimana cara mengetahui anak mengalami kekurangan zat besi?
Dokter dapat mengevaluasi riwayat makan, pertumbuhan, dan gejala anak, lalu merekomendasikan pemeriksaan darah lengkap serta ferritin untuk menilai hemoglobin dan cadangan zat besi. Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Apakah anak yang kekurangan zat besi perlu mengonsumsi suplemen?
Suplemen zat besi mungkin diperlukan jika direkomendasikan dokter berdasarkan kondisi dan hasil pemeriksaan anak. Jangan memberikan suplemen tanpa arahan medis karena kebutuhan setiap anak berbeda dan kelebihan zat besi dapat berbahaya.
