Banyak orang tua baru mengenal istilah kejang demam setelah melihatnya sendiri. Anak yang sedang demam tiba-tiba kaku, tangan dan kakinya menyentak, lalu tidak menjawab saat dipanggil. Beberapa menit itu bisa terasa sangat lama.
Sebagian besar kejang demam berhenti sendiri dan anak pulih seperti semula. Langkah orang tua selama kejang dan kesigapan mengenali tanda bahaya membuat perbedaan besar.
Berikut penjelasan tentang penyebab dan tanda kejang demam, langkah pertolongan di rumah, dan kapan anak perlu dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Apa Itu Kejang Demam pada Anak?
Kejang demam (febrile seizure) adalah kejang yang dipicu demam pada anak kecil, umumnya balita. Demamnya biasanya berasal dari infeksi di luar otak, misalnya infeksi saluran napas. Di masyarakat, kondisi ini sering disebut "step".
Kejang ini umumnya singkat dan berhenti sendiri dalam beberapa menit. Walau terlihat menakutkan, sebagian besar kejang demam tidak meninggalkan dampak jangka panjang pada otak maupun kecerdasan anak. Kejang pertama tetap perlu diperiksakan ke dokter agar penyebab demamnya diketahui.
Mengapa Demam Bisa Memicu Kejang?
Mekanisme kejang demam belum sepenuhnya dipahami. Otak anak kecil masih berkembang, sehingga lebih peka terhadap kenaikan suhu tubuh. Kejang umumnya muncul pada jam-jam awal demam, saat suhu sedang naik, dan kadang terjadi sebelum orang tua menyadari anak demam.
Demam yang memicu kejang umumnya berasal dari infeksi virus, misalnya flu atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Infeksi bakteri juga bisa menjadi penyebab, walau lebih jarang.
Faktor keluarga juga berperan. Anak yang orang tua atau saudara kandungnya pernah mengalami kejang demam lebih mungkin mengalaminya.
Demam setelah imunisasi tertentu juga bisa memicu kejang pada sebagian anak. Pemicunya adalah demamnya, sama seperti demam karena infeksi. Sampaikan riwayat kejang kepada dokter sebelum jadwal imunisasi berikutnya.
Baca Juga: Batuk pada Anak dan Kapan Perlu Khawatir
Tanda Kejang Demam yang Bisa Dilihat Orang Tua
Saat kejang, tubuh anak biasanya menjadi kaku, lalu tangan dan kakinya menyentak berulang. Matanya bisa mendelik ke atas, dan anak tidak merespons saat dipanggil atau disentuh. Sebagian anak juga mengeluarkan busa dari mulut, muntah, atau mengompol selama kejang.
Pada sebagian anak, kejang hanya tampak di satu bagian tubuh, misalnya satu lengan atau satu sisi wajah. Pola ini perlu disampaikan kepada dokter.
Setelah kejang berhenti, anak bisa tampak mengantuk, bingung, atau rewel untuk sementara waktu. Kondisi ini wajar selama anak berangsur sadar.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Kejang?
Langkah berikut bertujuan menjaga anak tetap aman sampai kejang berhenti sendiri.
Tetap tenang dan catat waktu mulai kejang. Lihat jam begitu kejang dimulai karena lamanya kejang menentukan langkah berikutnya. Bila ada orang lain, minta ia merekam video singkat untuk dokter.
Baringkan anak di permukaan yang aman dengan posisi miring. Pilih lantai beralas atau kasur rendah agar anak tidak jatuh. Posisi miring membantu air liur atau muntahan keluar sehingga jalan napas tetap terbuka.
Jauhkan benda keras atau tajam. Singkirkan mainan, perabot, atau benda lain yang bisa terbentur. Pindahkan anak hanya bila tempatnya berbahaya, misalnya di dekat tangga atau kolam.
Jangan menahan gerakan anak. Biarkan tubuhnya bergerak selama kejang berlangsung. Memegangi tangan atau kaki dengan kuat bisa melukai otot dan sendinya.
Jangan memasukkan apa pun ke mulut anak. Benda di mulut bisa menghalangi napas atau membuat anak tersedak. Air liur akan keluar dengan sendirinya bila anak berbaring miring.
Longgarkan pakaian di sekitar leher dan dada. Buka kancing kerah atau kendurkan pakaian yang ketat agar anak lebih lega bernapas.
Jangan memandikan atau menyiram anak dengan air. Air bisa masuk ke mulut dan hidung lalu terhirup. Upaya menurunkan demam dilanjutkan setelah kejang berhenti.
Setelah kejang berhenti, tetap miringkan dan temani anak. Pertahankan posisi miring sampai anak sadar penuh dan napasnya teratur. Catat lama kejang dan apa yang terlihat, lalu sampaikan kepada dokter.
Hal yang Sebaiknya Dihindari Selama Kejang
Beberapa kebiasaan dilakukan dengan niat baik, tetapi berisiko saat anak kejang. Hindari hal berikut:
Jangan memberi kopi, air, atau obat lewat mulut. Anak yang sedang kejang belum bisa menelan dengan aman, sehingga cairan bisa masuk ke saluran napas. Minum atau obat diberikan setelah anak sadar penuh.
Jangan menyelipkan sendok atau jari di antara gigi anak. Niatnya sering untuk mencegah lidah tergigit. Benda keras di mulut bisa mematahkan gigi, melukai mulut, atau membuat jari penolong tergigit.
Jangan mengguncang atau memaksa anak sadar. Guncangan, tepukan keras, atau percikan air ke wajah bisa membuat anak cedera. Anak akan sadar secara bertahap setelah kejang berhenti.
Jangan meninggalkan anak sendirian. Bila perlu memanggil bantuan, minta orang lain yang menelepon sementara Anda tetap di samping anak.
Kapan Anak Perlu Segera Dibawa ke IGD?
Beberapa keadaan memerlukan pertolongan segera. Bawa anak ke IGD atau hubungi layanan gawat darurat bila:
Kejang berlangsung lama. NHS dan Mayo Clinic memakai patokan lebih dari lima menit untuk segera mencari pertolongan darurat. Catatan waktu dari langkah pertama membantu Anda memutuskan dengan cepat.
Kejang berulang. Kejang yang muncul lagi pada demam yang sama, atau sebelum anak pulih dari kejang sebelumnya, perlu segera dinilai dokter.
Anak sulit bernapas. Napas yang tampak berat atau tersengal memerlukan pertolongan darurat. Tetap jaga posisi miring sambil menunggu bantuan.
Anak tidak sadar atau sulit dibangunkan setelah kejang. Mengantuk sesaat setelah kejang itu wajar. Anak yang tetap tidak merespons perlu diperiksa segera.
Ini kejang pertama anak. Kejang pertama perlu segera diperiksakan ke dokter walau hanya berlangsung beberapa detik. Pemeriksaan ini membantu menemukan penyebab demam dan menyingkirkan kondisi lain.
Anak sangat lemas atau muntah berulang. Muntah pada anak yang terus berulang bersama demam dan kejang perlu dinilai langsung oleh dokter. Lemas berat juga bisa menandakan infeksi yang memerlukan penanganan segera.
Leher anak kaku. Leher yang kaku atau nyeri saat ditekuk, disertai demam, perlu segera diperiksa. Dokter perlu menyingkirkan meningitis, yaitu peradangan selaput otak.
Perbedaan Kejang Demam Sederhana dan Kompleks
Kementerian Kesehatan membagi kejang demam menjadi jenis sederhana dan kompleks. Jenis sederhana lebih umum ditemui.
Tabel ini merangkum pola yang umum ditemui. Diagnosis tetap ditentukan oleh dokter.
Penggolongan ini dilakukan setelah dokter menilai anak secara langsung, dan ambang diagnosis ditentukan oleh dokter. Di rumah, patokan orang tua tetap sama. Cari pertolongan darurat bila kejang berlangsung lebih dari lima menit, apa pun jenisnya.
Apakah Kejang Demam Bisa Terulang?
Kejang demam bisa terulang saat anak demam lagi di kemudian hari. Kemungkinan ini lebih besar bila kejang pertama terjadi di usia sangat muda, ada riwayat kejang demam dalam keluarga, kejang muncul tidak lama setelah demam mulai, atau kejang terjadi saat demamnya belum tinggi.
Kecenderungan ini biasanya berkurang seiring anak bertambah besar. Kejang demam juga berbeda dengan epilepsi, yaitu kondisi kejang berulang yang muncul tanpa pemicu seperti demam. Sebagian besar anak yang pernah mengalami kejang demam tidak berkembang menjadi epilepsi.
Bila anak pernah mengalami kejang demam, tanyakan kepada dokter rencana penanganan di rumah bila kejang terulang.
Pemeriksaan yang Dilakukan Dokter Setelah Anak Kejang
Fokus utama dokter adalah mencari penyebab demam. Dokter akan menanyakan bentuk dan lama kejang, keluhan lain yang menyertai demam, riwayat imunisasi, serta riwayat kejang dalam keluarga. Pemeriksaan fisik membantu menemukan sumber infeksi, misalnya di tenggorokan, telinga, paru, atau saluran kemih.
Di Indonesia, demam pada anak juga bisa berasal dari demam berdarah dengue, sehingga pemeriksaan disesuaikan dengan gejala dan riwayat anak.
Pada kejang demam sederhana, anak yang kembali sadar dan tampak baik sering tidak memerlukan pemeriksaan tambahan yang luas. Tes darah atau urine dilakukan bila diperlukan. Bila ada tanda infeksi pada otak atau selaputnya, seperti radang otak, dokter bisa mempertimbangkan pemeriksaan cairan otak melalui pungsi lumbal. Rekam gelombang otak (EEG) atau pencitraan otak bisa dipertimbangkan pada kejang yang kompleks. Jenis pemeriksaan dan ambang diagnosis ditentukan oleh dokter sesuai kondisi anak.
Pencegahan yang Realistis untuk Orang Tua
Kejang demam sering muncul saat suhu baru mulai naik, sehingga tidak selalu bisa dicegah. Obat penurun demam membantu anak merasa lebih nyaman. Menurut Mayo Clinic dan StatPearls, obat ini tidak mencegah kejang demam secara andal, jadi penggunaannya tetap mengikuti anjuran dokter.
Jadwal imunisasi anak tetap dijalankan, termasuk vaksin influenza untuk anak bila dianjurkan dokter. Imunisasi membantu menurunkan risiko sejumlah infeksi yang bisa menimbulkan demam.
Cuci tangan, tidur cukup, dan makanan bergizi membantu menjaga daya tahan tubuh anak. Ajak juga pengasuh lain di rumah memahami langkah pertolongan saat anak kejang.
Hadapi Kejang Demam dengan Tenang dan Siap
Melihat anak kejang memang membuat cemas. Orang tua yang memahami langkah pertolongan bisa menjaga anak tetap aman, dan mengenali tanda bahaya sejak awal membantu anak mendapat pertolongan tepat waktu.
Setelah kejang pertama, dokter anak yang menentukan perlu tidaknya pemeriksaan lanjutan dan jenis pemeriksaannya. Bila ada pertanyaan seputar layanan di klinik Bumame, silakan hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kejang Demam: Tidak Seseram yang Dibayangkan. Retrieved 23 September 2026 from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kejang-demam-tidak-seseram-yang-dibayangkan
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Kejang Demam pada Anak: Gejala, Tipe dan Cara Tepat Mengatasinya. Retrieved 23 September 2026 from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3630/kejang-demam-pada-anak-gejala-tipe-dan-cara-tepat-mengatasinya
NHS. Febrile seizures. Retrieved 23 September 2026 from https://www.nhs.uk/conditions/febrile-seizures/
Mayo Clinic. Febrile seizure - Symptoms & causes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/febrile-seizure/symptoms-causes/syc-20372522
Cleveland Clinic. Febrile Seizure: What It Is, Symptoms & Treatment. Retrieved 23 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/febrile-seizure
StatPearls, NCBI Bookshelf. Febrile Seizure. Retrieved 23 September 2026 from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448123/
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
