Sesendok madu di teh hangat, segelas air madu sebelum berangkat kerja, atau madu yang dioles di roti anak. Banyak keluarga memakai madu sebagai pengganti gula karena dianggap lebih alami dan lebih menyehatkan.
Madu memang punya manfaat yang sudah diteliti. Namun, madu tetap termasuk gula, sehingga jumlahnya perlu diperhatikan, terutama oleh penderita diabetes. Bayi di bawah 1 tahun juga tidak dianjurkan mengonsumsi madu karena risiko penyakit yang bisa melemahkan otot.
Artikel ini membahas kandungan madu, manfaat yang sudah diteliti, aturan bagi penderita diabetes dan bayi, batas aman harian, serta kapan perlu ke dokter.
Apakah Madu Lebih Sehat daripada Gula Pasir?
Jawaban singkatnya, madu tetap termasuk gula. Artikel Kemenkes dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita menyebut madu hanyalah bentuk gula yang berbeda, meski sejumlah manfaatnya terus diteliti.
Madu mengandung karbohidrat, terutama dalam bentuk gula alami seperti fruktosa, serta protein, enzim, asam amino, mineral, vitamin, senyawa aroma, dan flavonoid, yaitu senyawa aktif dalam madu. Kandungan senyawa fenolik juga membuat madu memiliki sifat antioksidan.
Meski begitu, WHO memasukkan gula alami dalam madu ke kelompok gula bebas, sama dengan gula yang ditambahkan ke makanan dan minuman, sirup, serta jus buah. Artinya, madu ikut dihitung dalam batas gula harian Anda, sama seperti gula pasir.
Manfaat Madu yang Sudah Diteliti
Kekuatan bukti untuk setiap klaim manfaat madu berbeda-beda. Tabel berikut merangkum temuan kajian Cochrane dan artikel Kemenkes.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Untuk batuk, kajian Cochrane merangkum enam uji klinis kecil pada anak dan remaja usia 1 sampai 18 tahun. Sebagian besar anak hanya menerima madu selama satu malam, sehingga manfaatnya terbatas pada pemakaian jangka pendek. Penanganan batuk kering pada anak tetap perlu menyesuaikan penyebabnya.
Pada luka, penelitian memakai madu sebagai balutan dalam perawatan medis. Kajian Cochrane atas 26 penelitian dengan 3.011 peserta menilai bukti untuk sebagian besar perbandingan berkualitas rendah atau sangat rendah. Untuk luka bakar, luka bernanah, atau luka diabetes, bicarakan dulu dengan dokter atau perawat sebelum memakai madu.
Klaim lain, seperti meningkatkan kekebalan tubuh, sering ditulis tanpa menyebut penelitian yang mendasarinya. Untuk menjaga kekebalan, tidur cukup, makan bergizi seimbang, dan rutin bergerak termasuk dalam cara alami meningkatkan daya tahan tubuh.
Bolehkah Penderita Diabetes Mengonsumsi Madu?
Penderita diabetes masih bisa mengonsumsi madu dalam jumlah terbatas, dengan arahan dokter atau ahli gizi. Kemenkes mengingatkan agar madu tidak dikonsumsi berlebihan, karena meskipun alami, madu tetap mengandung gula dan kalori.
Madu juga ikut menaikkan gula darah. CDC memasukkan 1 sendok makan madu ke dalam daftar makanan untuk mengatasi hipoglikemia, yaitu gula darah di bawah 70 mg/dL, bersama gula pasir dan sirup. Bagi penderita yang rentan mengalami gula darah rendah, sifat ini bisa membantu bila dipakai sesuai rencana dari dokter.
Agar madu tetap aman dalam pola makan penderita diabetes, perhatikan langkah berikut:
Hitung madu sebagai gula. Masukkan madu dalam jatah gula dan karbohidrat harian yang disepakati dengan dokter atau ahli gizi. Satu sendok madu di teh tetap menambah asupan gula Anda.
Pantau respons gula darah. Bila Anda rutin memeriksa gula darah sendiri, catat hasilnya setelah mengonsumsi makanan atau minuman bermadu. Catatan ini membantu dokter menilai porsi yang sesuai untuk Anda.
Atur menu secara keseluruhan. Madu hanya satu bagian kecil dari menu harian. Susun pilihan makanan untuk penderita diabetes yang seimbang bersama ahli gizi.
Mengapa Bayi di Bawah 1 Tahun Tidak Boleh Diberi Madu?
Aturannya jelas. IDAI tidak menyarankan pemberian madu pada bayi berusia kurang dari 12 bulan, dan CDC meminta orang tua tidak memberikan madu kepada anak di bawah 1 tahun. Larangan ini juga berlaku untuk produk yang dibuat dengan madu, termasuk dot yang dicelup madu.
Alasannya adalah risiko botulisme bayi atau infant botulism, yaitu penyakit akibat racun dari bakteri Clostridium botulinum. Spora bakteri yang hidup di tanah ini juga bisa ditemukan pada madu. Usus bayi belum memiliki flora normal atau bakteri baik yang lengkap, sehingga belum mampu bersaing dengan spora yang masuk. Spora lalu tumbuh di usus besar dan menghasilkan toksin botulinum.
Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, madu jarang menimbulkan masalah karena bakteri baik di usus sudah mampu bersaing dengan spora tersebut. Menurut IDAI, sebagian besar kasus botulisme bayi terjadi pada usia 6 minggu hingga 6 bulan.
Racun ini melemahkan otot. Gejala yang perlu dikenali orang tua meliputi bayi tampak lesu dan lemas, malas menyusu, sulit menelan, sembelit, sulit membuka mata, mulut kering, dan sesak napas. Kelemahan otot bisa mengenai otot pernapasan, sehingga bayi dengan gejala ini perlu segera dibawa ke IGD.
Saat bayi mulai MPASI, periksa kembali bahwa bubur, minuman, ramuan tradisional, maupun cemilan bayi 6 bulan yang Anda berikan tidak mengandung madu. Setelah anak berusia 1 tahun, madu bisa diberikan, dengan jumlah yang tetap dihitung dalam batas gula harian.
Berapa Banyak Madu yang Aman Dikonsumsi Sehari?
WHO tidak membuat batas terpisah untuk madu. Madu dihitung bersama semua gula bebas, dengan batas di bawah 10 persen dari total energi harian. Angka ini setara 50 gram atau sekitar 12 sendok teh peres bagi orang dengan berat badan sehat yang mengonsumsi sekitar 2.000 kalori per hari. Membatasi hingga 5 persen atau kurang bisa memberi manfaat tambahan bagi kesehatan.
Batas ini mencakup madu, gula di teh dan kopi, sirup, hingga gula dalam minuman kemasan. Coba langkah berikut:
Takar dengan sendok. Menuang madu langsung dari botol membuat jumlahnya sulit diperkirakan. Sendok teh membantu Anda menghitung asupan dan membandingkannya dengan batas harian.
Ganti, jangan tambah. Bila Anda memakai madu di teh pagi, kurangi minuman atau makanan manis lain di hari yang sama. Cara ini menjaga total gula harian tetap terkendali.
Baca label gizi. Gula yang ditambahkan produsen juga termasuk gula bebas. Cek kandungan gula pada minuman berlabel madu, karena asupan berlebih berkaitan dengan berbagai dampak gula bagi kesehatan.
Sesuaikan dengan kebutuhan energi. Angka 50 gram berlaku untuk asupan sekitar 2.000 kalori. Bila kebutuhan kalori harian Anda lebih rendah, batas gulanya ikut lebih kecil.
Siapa yang Perlu Lebih Berhati-hati dengan Madu?
Selain bayi di bawah 1 tahun dan penderita diabetes, beberapa kelompok sebaiknya membatasi madu atau bertanya dulu ke dokter:
Orang dengan alergi serbuk sari. Orang yang sangat alergi terhadap serbuk sari mungkin mengalami reaksi alergi terhadap madu, karena madu mengandung serbuk sari lebah. Bila muncul keluhan setelah mengonsumsi madu, hentikan dan konsultasikan dengan dokter, termasuk bila Anda punya riwayat alergi makanan lain.
Orang yang sedang menjaga berat badan. Madu tetap mengandung gula dan kalori yang bisa berdampak kurang baik bila dikonsumsi berlebihan. Hitung madu di teh, roti, atau jamu sebagai bagian dari asupan harian.
Orang dengan tekanan darah tinggi. Madu belum direkomendasikan sebagai cara menurunkan tekanan darah. Lanjutkan perubahan gaya hidup dan pengobatan sesuai anjuran dokter.
Kapan Perlu Menemui Dokter?
Segera bawa bayi ke IGD bila ia tampak lemas, malas menyusu, sulit menelan, sulit membuka mata, atau sesak napas, terutama setelah diberi madu. Hal yang sama berlaku bila Anda sesak napas setelah mengonsumsi madu.
Periksakan diri ke dokter pada kondisi berikut:
Batuk yang tidak membaik. Manfaat madu untuk batuk terlihat pada pemakaian jangka pendek. Batuk yang disertai demam tinggi, dahak berdarah, atau sesak perlu diperiksa, begitu pula batuk yang tidak kunjung sembuh.
Nyeri tenggorokan yang makin berat. Madu sering dipakai saat tenggorokan gatal. Bila nyeri menelan makin berat atau disertai demam, dokter perlu memeriksa kemungkinan radang tenggorokan akibat infeksi.
Gula darah sering di luar target. Bila hasil cek gula darah mandiri sering tinggi atau justru turun, bicarakan dengan dokter. Bila belum pernah diperiksa, tes gula darah membantu dokter menilai kondisi Anda.
Pemeriksaan kesehatan atau medical check up berkala juga membantu memantau gula darah dan kondisi tubuh secara menyeluruh.
Gunakan Madu dengan Takaran yang Bijak untuk Seluruh Keluarga
Madu bisa menjadi bagian dari menu sehari-hari, asalkan diperlakukan sebagai gula. Manfaat yang sudah diteliti terbatas pada pemakaian tertentu, seperti meredakan batuk anak usia 1 tahun ke atas dan balutan luka dalam perawatan medis.
Takar madu dengan sendok, hitung dalam batas gula harian, jauhkan dari bayi di bawah 1 tahun, dan bicarakan porsinya dengan dokter bila Anda memiliki diabetes. Bila Anda ingin berdiskusi soal pemeriksaan gula darah atau kesehatan keluarga, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI — Manfaat Madu untuk Kesehatan Jantung dan Menurunkan Tekanan Darah Tinggi
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI — Konsumsi Madu Manis pada Penderita Diabetes
World Health Organization (WHO) — Healthy Diet
Cochrane — Honey for Acute Cough in Children
Cochrane — Honey as a Topical Treatment for Acute and Chronic Wounds
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Treatment of Low Blood Sugar (Hypoglycemia)
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) — Tepatkah Madu Diberikan pada Bayi?
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Botulism Prevention
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
Frequently Asked Question
Apa saja manfaat madu untuk kesehatan?
Penelitian menunjukkan madu berpotensi meredakan batuk jangka pendek pada anak berusia minimal satu tahun dan membantu penyembuhan luka bakar tertentu sebagai balutan medis. Manfaat lain, seperti menurunkan tekanan darah, masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Apakah madu lebih sehat daripada gula pasir?
Madu tetap termasuk gula dan dikategorikan sebagai gula bebas oleh WHO. Karena itu, konsumsinya perlu dibatasi dan diperhitungkan bersama gula dari makanan serta minuman lainnya.
Apakah penderita diabetes boleh mengonsumsi madu?
Penderita diabetes dapat mengonsumsi madu dalam jumlah terbatas sesuai arahan dokter atau ahli gizi. Madu tetap dapat meningkatkan gula darah, sehingga perlu dihitung dalam asupan gula dan karbohidrat harian.
Mengapa bayi di bawah satu tahun tidak boleh diberi madu?
Madu dapat mengandung spora bakteri Clostridium botulinum yang menyebabkan botulisme bayi. Racunnya dapat melemahkan otot, termasuk otot pernapasan, sehingga madu tidak boleh diberikan kepada bayi berusia di bawah 12 bulan.
Berapa banyak madu yang aman dikonsumsi setiap hari?
WHO menyarankan total gula bebas kurang dari 10% kebutuhan energi harian, setara sekitar 50 gram atau 12 sendok teh untuk asupan 2.000 kalori. Jumlah tersebut mencakup madu, gula tambahan, dan sumber gula bebas lainnya.
