Air ketuban pada saat kehamilan sangatlah penting untuk melindungi bayi serta merupakan penunjang pertumbuhan janin. Namun, apa yang terjadi ketika air ketuban terlalu banyak dalam janin? Kondisi tersebut bernama polihidramnion di mana jumlah air ketuban terlalu banyak.
Artikel ini menjelaskan secara lengkap mulai dari gejala dan penanganannya.
Apa itu Polihidramnion?
Polihidramnion adalah kondisi ketika jumlah air ketuban terlalu banyak selama kehamilan. Air ketuban inilah yang mengelilingi bayi di dalam rahim. Normalnya, jumlah air ketuban berkisar antara 0,5 hingga 2 liter. Namun pada kondisi ini jumlah air ketuban bisa mencapai lebih 2 liter. Kondisi ini biasanya tidak serius dan sering kali penyebabnya tidak jelas.
Selama kehamilan, air ini sangatlah penting untuk melindungi dan menopang janin selama tumbuh dan berkembang. Janin juga menelan sebagian air ketuban tersebut, yang kemudian diserap melalui saluran cerna dan sebagian dikeluarkan kembali sebagai urine. Proses ini membantu menjaga jumlah air ketuban tetap seimbang sehingga janin dan ibu tetap dalam kondisi yang aman.
Pada sebagian besar kasus, polihidramnion bersifat ringan dan sering kali terjadi saat usia kehamilan memasuki trimester kedua atau ketiga. Namun, polihidramnion yang berat dapat menyebabkan beberapa masalah seperti sesak napas, dan bahkan bisa mengakibatkan persalinan dini.
Gejala yang Muncul
Polihidramnion ringan seringnya tidak muncul gejala. Beberapa gejala baru akan muncul jika ibu hamil mengalami polihidramnion berat. Gejalanya meliputi:
Napas putus-putus sampai kesusahan bernapas.
Terjadi pembengkakan di area kaki.
Rasa sakit di bagian perut.
Kontraksi.
Sembelit.
Heartburn.
Sering buang air kecil.
Penyebab Terjadinya Polihidramnion
Sebagian besar kasus yang bersifat ringan biasanya tidak jelas penyebabnya. Namun, berikut adalah beberapa penyebab polihidramnion yang berkaitan dengan kondisi yang memengaruhi ibu atau janin:
Menderita diabetes gestational, yaitu kondisi kadar gula darah tinggi saat kehamilan.
Hamil dengan lebih dari satu bayi.
Adanya infeksi saat kehamilan.
Bayi memiliki kondisi genetik.
Anemia janin, yaitu ketika jumlah sel darah merah pada janin kurang.
Kondisi ketika sel darah ibu menyerang sel darah bayi.
Transfusi antarkembar (twin-to-twin transfusion syndrome), yaitu terjadinya komplikasi pada kehamilan kembar identik ketika satu janin menerima terlalu banyak darah dan janin lainnya terlalu sedikit.
Kelainan kromosom pada janin, seperti sindrom Down, sindrom Edwards, atau sindrom Patau, maupun kondisi genetik lainnya.
Faktor Risiko Polihidramnion
Faktor risikonya meliputi kondisi tertentu yang muncul selama kehamilan, seperti diabetes gestasional. Selain itu, kondisi yang memengaruhi perkembangan janin, misalnya gangguan pada saluran pencernaan, sistem saraf pusat, atau organ lainnya, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya polihidramnion.
Diagnosis dalam Menentukan Polihidramnion
Dokter atau bidan dapat menduga adanya polihidramnion melalui pemeriksaan fisik, salah satunya dengan mengukur tinggi fundus uteri, yaitu jarak dari tulang kemaluan hingga puncak rahim. Bila ukuran rahim terlihat lebih besar sekitar dua minggu atau lebih dari usia kehamilan yang seharusnya, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan.
1. Ultrasonografi (USG)
USG merupakan alat utama untuk mendiagnosis polihidramnion karena dapat mengukur jumlah air ketuban secara langsung. Ada dua metode yang biasa dokter lakukan saat pengecekan USG, antara lain:
Deepest Vertical Pocket (DVP): Metode ini mengukur kedalaman vertikal kantong air ketuban terbesar yang tidak terdapat janin atau tali pusat. Hasil DVP lebih dari 8 cm menandakan kemungkinan polihidramnion.
Amniotic Fluid Index (AFI): Metode ini membagi rahim menjadi empat bagian menggunakan garis vertikal dan horizontal yang melewati pusar ibu hamil. Lalu kantong air terdalam di setiap bagian diukur dan dijumlahkan. Hasil AFI di atas 24 cm dikategorikan sebagai polihidramnion.
2. Pemeriksaan Lanjutan Lain
Polihidramnion ringan merupakan jenis yang paling umum dijumpai dan sering kali membaik dengan sendirinya. Namun, polihidramnion tingkat sedang atau berat mungkin memerlukan evaluasi dan pemantauan lebih lanjut. Tergantung hasil pemeriksaan, dokter dapat menyarankan beberapa tes berikut:
Tes toleransi glukosa untuk memeriksa diabetes gestasional.
Tes darah untuk memeriksa infeksi, seperti panel TORCH dan virus Zika.
Pemeriksaan golongan darah dan skrining antibodi untuk mengetahui ada tidaknya inkompatibilitas Rh.
Tes genetik atau amniosentesis jika ada kelainan lain pada janin.
Periksa Rutin Kondisi Ibu dan Bayi
Pemeriksaan rutin selama kehamilan penting untuk memantau kesehatan ibu dan perkembangan janin secara berkala. Dokter atau bidan dapat menilai pertumbuhan janin, kondisi ibu, serta mendeteksi lebih awal kemungkinan kelainan atau komplikasi kehamilan, termasuk polihidramnion.
Deteksi dini sangat membantu karena kondisi seperti polihidramnion dapat berkaitan dengan faktor tertentu, misalnya diabetes gestasional. Jika ditemukan kelainan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan dan menyusun rencana pemantauan atau penanganan yang sesuai dengan kondisi ibu dan janin.
Bumame menyediakan pemeriksaan Paket Ibu Hamil untuk memantau kesehatan ibu dan janin serta melihat apakah ada risiko kesehatan yang serius. Selengkapnya, hubungi WhatsApp Bumame untuk keperluan konsultasi serta penjadwalan pemeriksaan ibu hamil atau prosedur lain yang Anda butuhkan.
Penanganan untuk Polihidramnion
Penanganan yang dokter berikan akan bergantung pada tingkat keparahan kondisi tersebut. Berikut adalah beberapa cara mengatasi polihidramnion.
Kasus ringan biasanya tidak memerlukan penanganan khusus selain pemantauan kondisi bayi secara rutin, termasuk melalui USG.
Kasus berat memerlukan tindakan untuk mengurangi jumlah air ketuban dan membantu mencegah kelahiran bayi prematur.
Jika ada kemungkinan bayi lahir lebih awal, dokter dapat memberikan suntikan steroid untuk membantu pematangan paru-paru bayi sebelum lahir.
Ibu hamil mungkin perlu perawatan di rumah sakit jika mengalami polihidramnion berat dengan gejala seperti sesak napas, nyeri perut, atau kontraksi. Penanganan polihidramnion dapat meliputi:
Pengeluaran air ketuban berlebih. Tim medis dapat menggunakan amniosentesis untuk mengeluarkan kelebihan air ketuban dari rahim. Prosedur ini memiliki risiko, seperti persalinan prematur, lepasnya plasenta (solusio plasenta), dan pecah ketuban sebelum waktunya.
Pemberian obat-obatan. Pada polihidramnion berat disertai kontraksi rahim atau risiko persalinan prematur, dokter dapat mempertimbangkan pemberian indometasin (Indocin). Obat ini dapat membantu mengurangi kontraksi rahim dan menurunkan jumlah air ketuban karena mengurangi produksi urine janin. Penggunaan indometasin umumnya hanya untuk jangka pendek, sekitar 48 jam, dan memerlukan pemantauan ketat oleh dokter.
Nonstress test (NST). Tes ini memeriksa bagaimana detak jantung janin bereaksi saat sedang bergerak. Selama tes, ibu akan mengenakan alat khusus di perut untuk mengukur detak jantung janin. Alat seperti bel juga bisa digunakan untuk membangunkan bayi dan merangsang gerakannya.
Profil biofisik. Tes ini menggunakan USG untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang pernapasan, tonus otot, dan gerakan janin. Tes ini juga dapat membantu mengukur volume air ketuban di dalam rahim, dan bisa dikombinasikan dengan nonstress test.
Cara Pencegahan Polihidramnion untuk Ibu Hamil
Polihidramnion tidak dapat dicegah, tetapi jika ibu hamil sudah terdiagnosis dengan diabetes gestasional maka kondisi tersebut yang harus diperhatikan. Ibu hamil harus menjaga pola makan dan gaya hidup agar janin dan ibu sehat hingga persalinan. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan:
Makan makanan dengan indeks glikemik rendah seperti biji-bijian utuh, oat, nasi merah, dan millet untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Selalu konsumsi sayuran hijau, labu-labuan, wortel, buncis, dan makanan yang bergizi, ringan, dan mudah dicerna.
Konsumsi protein yang cukup, misal dari lentil, kacang-kacangan, tahu, dan telur yang dimasak matang untuk mendukung tumbuh kembang janin.
Konsumsi yogurt sebagai opsi asupan lemak sehat.
Hindari permen, camilan kemasan, dan minuman manis.
Memantau kadar gula darah jika dianjurkan.
Mengikuti semua jadwal USG dan pemeriksaan rutin.
Beristirahat cukup dan mengelola stres dengan latihan pernapasan ringan atau yoga prenatal (dengan persetujuan dokter).
Jangan pernah melewatkan waktu jadwal makan.
Jangan makan terlalu banyak, lebih baik makan dengan porsi yang sedikit namun berulang.
Kelola stres karena stres bisa berpengaruh bagi kesehatan janin.
Selalu gunakan waktu untuk istirahat dan jangan memaksakan diri.
Jangan mengonsumsi obat tanpa persetujuan dokter.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera hubungi dokter, bidan, atau unit kebidanan di fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami salah satu kondisi berikut:
Tanda atau gejala persalinan prematur, seperti kontraksi yang teratur atau nyeri punggung.
Perdarahan dari vagina.
Keluarnya cairan dari vagina secara tiba-tiba atau sensasi seperti ada yang pecah, yang bisa menandakan ketuban sudah pecah.
Nyeri perut.
Ukuran perut yang membesar secara mendadak.
Sesak napas.
Kekhawatiran terhadap gerakan bayi.
Tanda-tanda di atas tidak selalu berarti terjadi komplikasi serius, tetapi tetap perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan agar kondisi ibu dan janin dapat diperiksa dengan tepat. Jika ragu atau khawatir terhadap kondisi kehamilan, segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penilaian lebih lanjut.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Health Service. Polyhydramnios (Too Much Amniotic Fluid).
Chelsea and Westminster Hospital. Polyhydramnios.
Mayo Clinic. Polyhydramnios.
International Society of Ultrasound in Obstetrics and Gynecology. Polyhydramnios.
Oasis Fertility. How to Reduce Amniotic Fluid in Pregnancy Naturally Through Diet?
Journal of Medical Ultrasound. Too Much of a Good Thing: Updated Current Management and Perinatal Outcomes of Polyhydramnios.
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
Frequently Asked Question
Apakah polihidramnion berbahaya?
Polihidramnion dapat menimbulkan risiko bagi ibu dan bayi, bergantung pada tingkat keparahannya. Kasus ringan sering kali hanya memerlukan pemantauan, sedangkan kasus sedang hingga berat mungkin membutuhkan pemeriksaan dan penanganan tambahan.
Apakah polihidramnion bisa sembuh?
Polihidramnion dapat membaik, terutama pada kasus ringan. Penanganan bergantung pada tingkat keparahan, penyebab yang mendasari, serta kondisi ibu dan janin, sehingga pemantauan dokter tetap diperlukan.
Apa risiko kelebihan air ketuban saat hamil?
Kelebihan air ketuban dapat meningkatkan risiko sesak napas pada ibu, kontraksi, persalinan prematur, dan komplikasi persalinan. Risiko bergantung pada tingkat keparahan serta kondisi kesehatan ibu dan janin.
Apakah ibu dengan polihidramnion bisa melahirkan secara normal?
Ibu dengan polihidramnion masih mungkin melahirkan secara normal. Namun, metode persalinan ditentukan berdasarkan tingkat keparahan, posisi janin, kondisi ibu, dan hasil pemantauan dokter.
Apa ciri-ciri air ketuban terlalu banyak?
Salah satu tanda yang mungkin terlihat adalah ukuran perut membesar lebih cepat atau lebih besar daripada perkiraan usia kehamilan. Gejala lain dapat berupa sesak napas, pembengkakan kaki, nyeri perut, kontraksi, dan sering buang air kecil. Diagnosis perlu dipastikan melalui pemeriksaan tenaga kesehatan, terutama USG.
