Saat anak mengalami demam berkepanjangan, mudah lelah, atau muncul benjolan yang tidak biasa, Anda sebagai orang tua perlu memperhatikan gejala tersebut. Pasalnya, neuroblastoma adalah salah satu kondisi serius yang melatarbelakanginya.
Gejalanya bisa menyerupai penyakit lain sehingga sulit dikenali sejak awal. Dengan memahami penyebab, gejala, dan pilihan pengobatannya, Anda bisa mengenali tanda peringatan lebih dini dan mengetahui kapan anak perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
Apa Itu Neuroblastoma?
Neuroblastoma adalah jenis kanker langka yang berasal dari sel saraf yang masih berkembang (neuroblast). Sel-sel tersebut merupakan bagian dari sistem saraf simpatis yang berperan mengatur fungsi otomatis tubuh, seperti respons terhadap stres dan denyut jantung.
Tumor neuroblastoma paling sering bermula di kelenjar adrenal, sebuah kelenjar kecil yang berada di atas ginjal. Akan tetapi, tumor juga bisa terbentuk pada jaringan saraf sepanjang tulang belakang, termasuk area dada, leher, panggul, dan perut.
Pengelompokan jenis neuroblastoma ditentukan berdasarkan penyebaran, lokasi tumor, dan temuan pemeriksaan pencitraan. International Neuroblastoma Risk Group Staging System (INRGSS) membaginya menjadi empat kategori berikut.
Stadium L1: Tumor ada di satu area dan tidak mempunyai faktor risiko tertentu yang menjadikan operasi lebih sulit.
Stadium L2: Tumor masih di area setempat, tetapi ada faktor risiko berdasarkan pemeriksaan pencitraan.
Stadium L3: Sel kanker sudah menyebar ke bagian tubuh yang jauh dari lokasi awal, tetapi dengan pengecualian kategori MS.
Stadium MS: Sel kanker sudah menyebar pada anak yang berusia di bawah 18 bulan, dengan pola penyebaran ke hati, kulit, dan sumsum tulang belakang.
Stadium bukan satu-satunya penanganan. Dokter juga bisa mempertimbangkan usia anak, perubahan genetik tertentu, karakteristik sel tumor, dan respons terhadap nyeri.
Penyebab Neuroblastoma
Penyebab neuroblastoma masih belum sepenuhnya diketahui. Hal ini karena neuroblastoma adalah kanker yang terjadi saat sel saraf yang belum matang mengalami perubahan genetik. Sehingga, membuat tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali dibandingkan dengan menjadi sel saraf yang normal.
Perubahan ini juga bisa berpengaruh terhadap gen yang mengatur pertumbuhan dan pembelahan sel. Salah satu contohnya adalah amplifikasi MYCN, yaitu peningkatan jumlah salinan gen MYCN yang bisa berhubungan dengan perilaku tumor yang lebih agresif. Akan tetapi, perubahan tersebut masih belum ditemukan di semua kasus neuroblastoma.
Sementara itu, pada anak, perubahan bisa muncul secara spontan selama perkembangan sel dan bukan karena kesalahan orang tua dalam merawat anak. Sampai sekarang, belum ada satu kebiasaan maupun paparan tertentu yang terbukti menjadi penyebab utama kasus neuroblastoma.
Faktor Risiko Neuroblastoma
Beberapa faktor bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker neuroblastoma, meskipun sebagian anak pengidap penyakit ini tidak mempunyai faktor risiko yang jelas. Berikut ini penjelasannya.
Usia: Neuroblastoma paling sering ditemukan pada bayi dan balita (sebelum usia 5 tahun). Kasus pada anak berusia di atas 5 tahun memang bisa terjadi, tetapi cenderung lebih jarang.
Riwayat keluarga: Sebagian kecil kasus berhubungan dengan gen neuroblastoma dalam keluarga. Ini adalah kondisi saat kanker ditemukan pada beberapa anggota keluarga.
Kelainan genetik: perubahan bawaan karena gen tertentu, termasuk PHOX2B dan ALK, bisa meningkatkan risiko neuroblastoma pada sebagian keluarga. Kondisi tersebut jarang terjadi dibandingkan dengan kasus yang muncul tanpa riwayat keluarga.
Penting untuk Anda pahami bahwa faktor risiko di atas tidak otomatis menandakan bahwa anak pasti mengalami kanker. Sebaliknya, neuroblastoma adalah kanker yang bisa muncul pada anak meski tanpa riwayat keluarga atau kelainan genetik yang diketahui.
Gejala Neuroblastoma
Gejala neuroblastoma bisa berbeda-beda karena bergantung pada ukuran, lokasi tumor, dan penyebarannya. Berikut adalah beberapa tanda yang bisa Anda lihat.
Benjolan atau pembengkakan di leher, perut, atau bagian tubuh lainnya.
Nyeri tulang, pincang, atau anak enggan berjalan.
Perut yang membesar atau terasa tidak nyaman.
Nafsu makan menurun, tubuh terlihat lebih lemah, atau berat badan menurun.
Mata menonjol atau terdapat memar di sekitar mata.
Demam atau tekanan darah yang meningkat tanpa penyebab pasti.
Gangguan gerak maupun kelemahan anggota tubuh terjadi jika tumor menekan saraf tulang belakang.
Memang, gejala di atas tidak selalu menandakan adanya kanker. Akan tetapi, jika keluhan berlangsung secara terus-menerus, muncul bersama dengan beberapa tanda lain, atau bahkan semakin parah, maka sebaiknya segera bawa buah hati ke dokter.
Diagnosis Neuroblastoma
Untuk memastikan diagnosis neuroblastoma, biasanya dokter akan menggabungkan pemeriksaan fisik, pencitraan, tes laboratorium, dan pemeriksaan jaringan sesuai dengan kebutuhan. Tidak semua orang harus menjalani semua prosedur skrining kanker tersebut.
1. Pemeriksaan Fisik
Dokter akan memeriksa kondisi umum, seperti menilai pembengkakan mata, perut, dan fungsi saraf serta meraba kemungkinan benjolan. Riwayat keluhan dan perkembangan gejala juga akan menjadi pertimbangan.
2. Pemeriksaan Darah dan Urine
Tes darah bisa membantu mengevaluasi kondisi umum, termasuk jumlah sel darah dan fungsi organ. Pemeriksaan urine digunakan untuk mengukur metabolit katekolamin, alias zat hasil pemecahan senyawa kimia yang berhubungan dengan hormon dan fungsi saraf. Pengukuran metabolit katekolamin penting karena kadarnya bisa meningkat pada sebagian besar kasus neuroblastoma.
3. Pemeriksaan Pencitraan
USG bisa bantu melihat benjolan, khususnya pada area perut. MRI atau CT scan digunakan untuk menilai lokasi, ukuran, dan hubungan tumor dengan jaringan yang ada di sekitarnya. Dokter juga bisa merekomendasikan pemindaian meta-iodobenzylguanidine (MIBG), sebuah pemeriksaan yang menggunakan zat pelacak radioaktif untuk membantu menemukan sel neuroblastoma dalam tubuh. [2]
4. Biopsi dan Pemeriksaan Sumsum Tulang
Biopsi merupakan pengambilan sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan tersebut membantu memastikan jenis tumor dan menilai karakteristik selnya.
Untuk kondisi tertentu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan sumsum tulang untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar atau tidak. Hasil pemeriksaan akan digunakan untuk menentukan stadium dan kelompok risiko sebelum menentukan pengobatan yang sesuai.
Komplikasi Neuroblastoma
Komplikasi neuroblastoma bergantung pada perkembangan dan lokasi tumor. Tumor yang terletak di perut bisa menekan organ di sekitarnya, sementara tumor di dekat tulang belakang bisa menekan saraf dan mengakibatkan gangguan gerak tubuh.
Ketika menyebar, kanker bisa mengenai sumsum tulang, tulang, hati, maupun jaringan lain. Keterlibatan sumsum tulang bisa mengganggu pembentukan sel darah. Hal ini membuat anak berisiko mengalami anemia atau lebih rentan terkena infeksi.
Pengobatan Neuroblastoma
Pengobatan kanker harus mempertimbangkan kelompok risiko, karakteristik tumor, usia, dan kondisi anak. Dokter bisa merekomendasikan satu atau kombinasi dari beberapa metode berikut.
Operasi: Mengangkat tumor ketika lokasinya memungkinkan dan tindakan dinilai aman.
Kemoterapi: Menggunakan obat tertentu agar bisa membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker.
Radioterapi: Memanfaatkan radiasi untuk menghancurkan sel kanker pada kondisi tertentu.
Transplantasi sel Punca: Mengembalikan pembentukan sel darah setelah melakukan kemoterapi, insentif untuk kasus yang berisiko tinggi.
Imunoterapi: Membantu sistem imun mengenali dan menyerang sel kanker.
Terapi bertarget: Menargetkan perubahan molekuler tertentu pada sel kanker ketika sesuai dengan karakteristik tumor.
Untuk neuroblastoma berisiko rendah, dokter mungkin akan memilih operasi atau pemantauan ketat pada kasus tertentu. Sebaliknya, kasus berisiko tinggi biasanya membutuhkan kombinasi terapi yang lebih intensif.
Pemeriksaan Kesehatan Berkala untuk Mendukung Pemantauan Anak
Pemeriksaan kesehatan secara rutin bisa membantu Anda dan dokter dalam memahami kondisi umum anak. Meski begitu, tidak ada pemeriksaan kesehatan umum yang bisa menggantikan evaluasi khusus untuk masalah neuroblastoma.
Ketika muncul gejala yang mencurigakan, dokter bisa menentukan pemeriksaan lanjutan dengan menyesuaikan kondisi anak. Bumame menyediakan beberapa pilihan pemeriksaan kesehatan, termasuk Paket Medical Check Up Plus.
Paket layanan pemeriksaan ini mencakup pemeriksaan gula darah, hematologi lengkap, fungsi ginjal dan hati, profil lemak, dan urine. Pemeriksaan ini bisa memberi gambaran tentang kesehatan umum, bukan untuk melakukan diagnosis neuroblastoma.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera pergi ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat ketika anak mengalami benjolan yang penyebabnya tidak diketahui, perubahan kondisi tubuh yang terus-menerus berlangsung, atau nyeri yang menetap.
Jangan menunda konsultasi ketika keluhan semakin berat dan bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan lebih awal akan membantu dokter menentukan penyebab keluhan dan langkah penanganan yang tepat dan cepat.
Mengenali Perubahan Kesehatan Anak Sejak Dini
Neuroblastoma adalah kanker yang berasal dari sel saraf belum matang dan biasanya menyerang bayi dan anak-anak. Gejalanya beragam, mulai dari benjolan sampai gangguan yang berhubungan dengan penyebaran tumor, sehingga diagnosis memerlukan pemeriksaan secara menyeluruh.
Anda sebagai orang tua tidak perlu menyimpulkan secara langsung bahwa keluhan yang dialami anak adalah kanker. Akan tetapi, memperhatikan perubahan yang menetap dan berkonsultasi ketika dibutuhkan adalah langkah yang penting agar anak mendapatkan perawatan yang sesuai.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Cancer Institute (NCI). (2024). Neuroblastoma—Patient Version.
National Cancer Institute (NCI). (2025). Neuroblastoma Treatment (PDQ®)—Health Professional Version.
National Cancer Institute (NCI). (2024). Neuroblastoma—Health Professional Version.
National Cancer Institute (NCI). (2023). Neuroblastoma Screening.
Bumame. (2026). Medical Check Up Plus: Isi Paket, Harga & Prosedur.
Bumame. (2026). Tes Darah: Pemeriksaan Kecil yang Memberi Gambaran Besar.
Bumame. (2025). Skrining Kanker Payudara di Bumame: Deteksi Dini untuk Hidup Lebih Sehat.
Bumame. (2025). Skrining Dini Kanker.
Bumame. (2026). Paket Panel Usia 1–12 Bulan (Bayi).
American Cancer Society — Causes, Risk Factors, and Prevention of Neuroblastoma
American Cancer Society — Early Detection, Diagnosis, and Staging of Neuroblastoma
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
Frequently Asked Question
Apakah sarapan penting saat menjalani diet?
Sarapan tidak wajib bagi semua orang untuk menurunkan berat badan. Namun, sarapan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi jika disesuaikan dengan rasa lapar dan pola makan secara keseluruhan.
Apa saja menu sarapan yang cocok untuk diet?
Pilihan menu sarapan untuk diet meliputi oatmeal dengan pisang dan susu rendah lemak, telur rebus dengan roti gandum dan sayuran, atau nasi dengan telur serta tumis sayuran.
Apa ciri-ciri sarapan yang baik untuk diet?
Sarapan yang baik untuk diet mengandung protein, serat, dan karbohidrat dalam porsi sesuai kebutuhan. Sebaiknya, batasi gula serta lemak tambahan agar asupan kalori tetap terkendali.
Apakah boleh makan nasi saat sarapan untuk diet?
Boleh. Nasi tetap dapat menjadi sumber karbohidrat saat diet, asalkan porsinya disesuaikan dengan kebutuhan dan dilengkapi protein serta sayuran untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi.
Bagaimana cara sarapan agar diet lebih konsisten?
Sesuaikan porsi sarapan dengan rasa lapar dan aktivitas, siapkan bahan makanan sejak malam, kurangi gula tambahan pada minuman, serta pastikan asupan nutrisi sepanjang hari tetap mencukupi.
.jpg&w=3840&q=75)