Pernah mengalami kulit di kaki tiba-tiba memerah, terasa nyeri, dan ada bagian yang mengeras di sepanjang pembuluh darah? Sebaiknya jangan diabaikan karena bisa jadi itu adalah tanda tromboflebitis. Kondisi ini bisa berujung pada komplikasi serius jika tidak tertangani dengan tepat. Mari kenali sebagai bentuk pencegahan dini!
Apa itu Tromboflebitis?
Tromboflebitis adalah peradangan yang terjadi pada pembuluh darah vena yang biasanya terjadi karena gumpalan darah atau trombus. Pada jenis superficial thrombophlebitis, masalah terjadi pada vena di dekat permukaan kulit.
Sekitar 60-80% kasus penyakit ini menyerang tungkai bagian bawah, lebih tepatnya pada vena safena magna (vena panjang di sisi tungkai bawah). Sementara sekitar 10-20% terjadi pada vena safena parva atau pendek, lalu sisanya di leher, dada, atau lengan.
Ada pula jenis deep vein thrombosis atau DVT. Jika tromboflebitis superfisial terjadi di dekat kulit, gumpalan darah DVT terjadi di vena yang letaknya jauh di dalam otot. Jenis ini jauh lebih berbahaya karena gumpalannya bisa terlepas dan menyebabkan pembuluh darah di paru-paru tersumbat atau emboli paru.
Sebenarnya, pada penelitian terdahulu, jenis superfisial sering dianggap sebagai kondisi jinak yang akan sembuh sendiri. Namun, penelitian terbaru berkata lain. Orang dengan riwayat superficial thrombophlebitis ternyata memiliki 4-6 kali lebih tinggi mengalami DVT atau emboli paru di kemudian hari.
Jadi, kedua jenis penyakit ini bisa saling berkaitan. Sebanyak 6-36% pasien superficial thrombophlebitis ternyata juga memiliki DVT, dan 2-13% mengalami emboli paru. Sementara sekitar 5,4% risiko populasi untuk DVT atau emboli paru pertama kerap kali memiliki riwayat superficial thrombophlebitis.
Gejala Tromboflebitis
Karena letak munculnya berbeda, kedua kondisi ini juga memiliki gejala yang berbeda. Gejala superficial thrombophlebitis biasanya lebih mudah terlihat, sedangkan DVT kadang malah tidak terasa. Berikut penjelasannya.
Tromboflebitis Superfisial
Kulit kemerahan di atas vena yang terkena.
Bengkak dan nyeri.
Terasa hangat dan lembut saat di sepanjang jalur vena.
Teraba benjolan keras seperti tali (palpable cord) di bawah kulit yang nyeri saat ditekan.
Gatal atau pembengkakan (edema) ringan di sekitarnya.
DVT
Seluruh tungkai bengkak, biasanya hanya di satu kaki.
Nyeri betis atau kram yang sering muncul.
Kulit terasa hangat di area yang bengkak.
Kulit kemerahan, kebiruan, atau pucat.
Pada beberapa kasus, tidak ada gejala sama sekali (asimtomatik).
Tanda Emboli Paru
Tanda ini juga perlu Anda kenali karena artinya sudah masuk ke keadaan darurat.
Sesak napas mendadak.
Nyeri dada yang makin parah saat tarik napas dalam atau batuk.
Batuk berdahak atau batuk darah.
Pusing, kepala terasa ringan, atau pingsan.
Denyut nadi cepat.
Penyebab dan Faktor Risiko
Mengapa bisa terjadi gumpalan? Terdapat tiga pemicu utama yang disebut Trias Virchow. Berikut penjelasannya.
Stasis vena: aliran darah melambat atau berhenti. Kenapa? Bisa jadi karena terlalu lama duduk atau berbaring.
Hiperkoagulabilitas: darah lebih mudah menggumpal dari biasanya.
Cedera dinding vena: lapisan pembuluh darah rusak akibat trauma, operasi, atau pemasangan kateter.
Salah satunya saja sudah cukup menjadi penyebab atau bahkan muncul bersamaan. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan munculnya tromboflebitis. Mulai dari medis, situasi, hingga hormonal. Berikut penjelasannya.
Faktor Medis
Varises, 75-88% kasus superficial thrombophlebitis berkaitan dengan varises.
Riwayat DVT atau thrombophlebitis sebelumnya.
Gangguan pembekuan darah bawaan, seperti defisiensi protein C, protein S, antitrombin III, faktor V Leiden, atau kelainan prothrombin.
Kanker aktif, terutama kanker pankreas.
Penyakit autoimun seperti lupus.
Gagal jantung atau gagal napas.
Obesitas (BMI >25 kg/m²).
Usia di atas 60 tahun.
Merokok.
Faktor Situasional
Imobilisasi lama, seperti tirah baring, masa pemulihan pasca operasi, atau perjalanan jauh lebih dari 4 jam dengan pesawat maupun mobil.
Operasi baru-baru ini, terutama pinggul, lutut, atau panggul.
Patah tulang panggul atau tungkai.
Kehamilan dan masa 6 bulan pasca melahirkan.
Akibat Tindakan Medis (Faktor Iatrogenik)
Kateter intravena jangka panjang.
Kateter pacemaker yang melewati vena di pangkal paha.
Infus obat iritan atau skleroterapi (penyuntikan cairan untuk mengecilkan varises).
Polycythemia vera, yaitu kelebihan sel darah merah.
Faktor Hormonal
Pil KB atau terapi hormon pengganti.
Estrogen dari luar tubuh (eksogen).
Tromboflebitis pada Ibu Nifas
Pada masa nifas (baru melahirkan) ibu sedang berada pada masa paling rentan. Maka dari itu, ada risiko ovarian vein thrombophlebitis (OVT). Ini adalah gumpalan darah di vena yang mengalirkan darah dari ovarium.
Kasus ini sebenarnya jarang terjadi, OVT postpartum muncul pada 0,05-1,8% persalinan normal dan 1-2% persalinan sesar. Namun, studi populasi di AS selama 30 tahun menemukan risiko tromboemboli vena (VTE) meningkat 4,29 kali selama kehamilan dan nifas.
Mengapa Masa Nifas Lebih Berisiko?
Secara alami tubuh berada dalam kondisi prothrombotic, yaitu lebih mudah menggumpal, karena beberapa hal.
Kadar estrogen, faktor koagulasi, faktor von Willebrand (VWF), fibrinogen, faktor VIII, dan faktor aktivasi platelet meningkat.
Aliran darah relatif melambat karena rahim yang membesar menekan vena cava inferior (vena besar yang membawa darah dari tubuh bagian bawah ke jantung).
Fibrinolisis, yaitu proses pemecahan gumpalan, menurun.
Dinding pembuluh darah bisa cedera akibat infeksi atau manipulasi rahim saat persalinan.
Berikut adalah gejalanya.
Demam yang persisten, sering di atas 38°C, muncul pada hari ke-4 hingga ke-7 pasca persalinan.
Nyeri panggul atau perut bagian bawah, biasanya di sisi kanan.
Nyeri pinggang atau flank pain (nyeri di sisi samping punggung).
Mual dan muntah.
Pada sebagian kasus, teraba massa di perut.
Peningkatan sel darah putih (leukositosis) dan CRP (C-reactive protein, penanda peradangan).
Hal yang perlu dicatat, sekitar 50% pasien tidak bergejala atau gejalanya tidak spesifik. Gejalanya pun mirip penyakit lain, seperti infeksi ginjal (pielonefritis), abses tubo-ovarium (kumpulan nanah di saluran telur dan ovarium), hematoma ligamen lebar, radang usus buntu, endometritis, dan torsi ovarium (ovarium terpelintir).
Diagnosis Lewat Tes D-Dimer
Ketika dokter mencurigai adanya tromboflebitis, salah satu tes andalan adalah D-dimer. D-dimer merupakan produk degradasi fibrin, yaitu zat yang terbentuk ketika tubuh memecah gumpalan darah. Jadi, hampir semua orang dengan gumpalan darah memiliki kadar D-dimer yang tinggi. Tes definitifnya tetap perlu tambahan USG vena.
Alur
Menjalani tes D-dimer.
Jika negatif, tromboflebitis dapat disingkirkan tanpa USG.
Jika positif, lanjut USG Doppler untuk konfirmasi.
Tindakan bedah umumnya jarang diperlukan. Indikasinya bila gumpalan signifikan secara klinis atau tidak merespons terapi medis dalam 5 hari. Pilihannya trombektomi (pengangkatan gumpalan), ligasi vena ovarium (pengikatan vena), atau pemasangan filter vena cava inferior. Berikut kondisi khusus yang dimaksud.
Trousseau syndrome: prioritasnya mengobati kanker yang mendasari. Heparin menjadi terapi pilihan karena banyak jalur yang terlibat, dan LMWH dinilai kurang efektif dibanding heparin unfractionated.
Mondor disease: biasanya sembuh sendiri dalam 4-8 minggu. Jika terkait vaskulitis, kanker, atau hiperkoagulabilitas, terapi diarahkan pada penyebabnya.
Perawatan mandiri
Jenis Superfisial: kompres hangat, tinggikan kaki, minum NSAID seperti ibuprofen jika dokter menganjurkan, dan pakai stoking kompresi.
Jeis DVT: minum antikoagulan sesuai resep, tinggikan kaki jika bengkak, pakai stoking kompresi sesuai anjuran, dan hindari aktivitas yang memperburuk gejala.
Antibiotik hanya diberikan bila ada infeksi yang jelas, seperti pada septic thrombophlebitis postpartum. Pada superfisial tanpa infeksi, antibiotik tidak rutin dianjurkan.
Kapan Harus ke Dokter?
Tromboflebitis memiliki rentang yang cukup lebar, dari yang sembuh sendiri sampai yang mengancam nyawa. Namun, berdasarkan gejala yang ada, basis untuk ke dokter sangat jelas.
Vena tampak merah, bengkak, atau nyeri, terutama bila Anda punya faktor risiko.
Gejala tidak membaik dengan perawatan di rumah, atau justru memburuk.
Muncul gejala baru, misalnya seluruh tungkai menjadi pucat, dingin, atau sangat bengkak.
Setelah melahirkan, Anda demam terus-menerus (hari ke-4 hingga ke-7) disertai nyeri panggul atau perut bagian bawah.
Ada nyeri pinggang atau flank pain pasca persalinan.
Jika muncul gejala lain yang lebih parah, sebaiknya segera ke IGD. Untuk pasien yang punya riwayat thrombophlebitis, perlu pemantauan lebih lanjut agar tidak kambuh lagi. Lalu, pasien di atas 40 tahun yang mengalami penyakit ini untuk pertama kalinya tanpa faktor risiko lain, perlu evaluasi untuk kemungkinan kanker organ dalam.
Hadapi Tromboflebitis dengan Langkah yang Tepat!
Tromboflebitis memang perlu mendapat evaluasi lebih lanjut, terutama bila menyerang vena dalam atau muncul setelah melahirkan. Namun, kondisi ini dapat ditangani dengan baik bila terdeteksi sejak dini. Karena itu, kenali gejalanya agar Anda tahu kapan harus ke dokter.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
MedlinePlus. (2026). Thrombophlebitis.
Czysz, A., & Higbee, S. L. (2023). Superficial vein thrombosis.
Mayo Clinic. (2023). Thrombophlebitis.
Khlifi, A., Kebaili, S., Hammami, M., Berregaya, L., Hidar, S., Affes, N., & Khairi, H. (2010). Postpartum ovarian vein thrombophlebitis: Report of a case and review of the literature.
Lopes-Casal, R., Saavedra-Rocha, I., Serrano, F., & Djokovic, D. (2023). Left ovarian vein thrombophlebitis in the postpartum period.
AMBOSS. (2026). Deep vein thrombosis.
Rudofsky, G. (1989). Pathogenesis, diagnosis and therapy of thrombophlebitis and varicophlebitis.
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
_(2).jpg&w=3840&q=75)