Bersin berulang kali di pagi hari atau kulit terasa gatal dan kemerahan setelah mengonsumsi sesuatu acap dianggap sepele. Padahal, bisa jadi itu merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap kondisi medis tertentu, sesuai yang dipelajari dalam alergi imunologi.
Apa Itu Alergi Imunologi?
Sederhananya, alergi imunologi adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari, mendiagnosis, dan menangani berbagai gangguan sistem kekebalan tubuh serta reaksi hipersensitivitas. Sistem kekebalan tubuh pada dasarnya dirancang sebagai benteng pertahanan alami manusia dari serangan virus, bakteri, dan parasit.
Namun, sistem pertahanan atau imunitas tubuh ini tidak selalu beraktivitas dengan baik dan lancar. Terkadang, muncul kondisi saat kekebalan tubuh melakukan kesalahan, seperti:
Memberi respons berlebihan terhadap zat asing;
Kehilangan kemampuan mengenali jaringan tubuh sendiri; dan
Mengalami penurunan daya tahan tubuh.
Sehingga, peristiwa-peristiwa tersebut justru membuat tubuh menjadi rentan–atau mudah–terserang penyakit.
Alergi dan Imunologi, Apa Bedanya?
Meskipun dapat digabungkan sebagai satu rangkaian istilah, alergi dan imunologi sebenarnya bisa berdiri masing-masing. Imunologi merupakan cabang ilmu kesehatan yang mempelajari keseluruhan struktur, fungsi, dan mekanisme respons sistem kekebalan tubuh manusia dalam menghadapi serangan infeksi dan penyakit.
Sementara itu, alergi adalah salah satu bagian spesifik yang dipelajari dalam imunologi tersebut. Reaksi alergi biasanya terjadi saat sistem pertahanan tubuh keliru menganggap zat asing tapi tidak berbahaya seperti debu, serbuk sari, atau makanan sebagai ancaman serius.
Ketika reaksi alergi terjadi, tubuh memproduksi antibodi khusus yang memicu pelepasan zat kimia seperti histamin dan menimbulkan gejala peradangan. Singkatnya, imunologi mencakup sistem pertahanan tubuh secara menyeluruh, sedangkan alergi berfokus pada bentuk respons keliru dari sistem tersebut.
Jenis Penyakit Alergi Imunologi
Ingin tahu jenis penyakit yang dipelajari dalam cabang ilmu kesehatan yang satu ini? Melansir Cleveland Clinic, gangguan tersebut dikelompokkan menjadi tiga kategori utama, yaitu reaksi alergi, penyakit autoimun, dan kondisi penurunan fungsi kekebalan tubuh (imunodefisiensi).
1. Penyakit Alergi
Pengertian alergi sudah dibahas secara singkat sebelumnya. Lantas, bentuk penyakitnya yang umum terjadi antara lain:
Peradangan pada saluran hidung yang menimbulkan gejala bersin-bersin, hidung tersumbat, dan mata berair. Umumnya, hal yang menjadi pemicu adalah faktor lingkungan, seperti alergi debu atau bulu hewan peliharaan.
Penyempitan atau peradangan kronis pada saluran pernapasan membuat penderitanya mengalami sesak napas, dada terasa berat, serta suara mengi saat bernapas.
Peradangan kulit kronis (dermatitis) yang menyebabkan munculnya ruam kemerahan, kulit sangat kering, bersisik, dan rasa gatal luar biasa.
Bentol kemerahan dan gatal (biduran) di bagian permukaan kulit.
Pembengkakan pada jaringan kulit dalam, seperti bibir dan kelopak mata.
Penurunan tekanan darah drastis (syok) dan penyempitan saluran pernapasan secara mendadak, yang termasuk jenis alergi darurat medis sehingga membutuhkan penanganan segera.
Alergi makanan dan obat-obatan yang menyebabkan gatal dan terkadang sesak napas.
2. Penyakit Autoimun
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami kekeliruan fungsi, sehingga gagal membedakan sel tubuh sendiri dengan zat asing. Akibatnya, sistem imun justru menyerang organ dan jaringan tubuh yang sehat. Ada beberapa jenis gangguan medis berbeda dari autoimun, yaitu:
Lupus, yaitu kondisi autoimun yang dapat memicu peradangan pada berbagai organ tubuh, termasuk sendi, kulit, ginjal, sel darah, hingga otak.
Peradangan kronis yang menyerang lapisan sendi. Kondisi ini menyebabkan rasa nyeri hebat, pembengkakan, dan rasa kaku pada jari-jari tangan serta kaki.
Sindrom Sjögren, yaitu gangguan autoimun yang menyerang kelenjar penghasil cairan tubuh, membuat penderitanya mengalami kondisi mata dan mulut yang sangat kering secara terus-menerus.
Skleroderma atau penyakit langka yang ditandai dengan penebalan dan pengerasan jaringan kulit dan ikat pada organ dalam tubuh.
3. Penyakit Imunodefisiensi
Alergi imunologi mengidentifikasi kelainan ini terjadi saat fungsi sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan atau kerusakan. Akibatnya, tubuh kehilangan daya tahan alami dan rentan terserang berbagai jenis infeksi secara berulang. Jenis penyakitnya adalah sebagai berikut.
Imunodefisiensi primer (PIDD) yang merupakan kelainan genetik bawaan sejak lahir. Akibatnya, komponen sistem pertahanan tubuh tidak terbentuk atau tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya.
HIV/AIDS yaitu infeksi yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini secara bertahap merusak sel-sel penting dalam sistem imun yang mengakibatkan tubuh tidak lagi mampu melawan infeksi.
Prosedur Tes Alergi
Bagaimana cara tenaga medis mengidentifikasi gangguan medis yang termasuk dalam cabang alergi imunologi? Caranya dengan melakukan beberapa jenis tes kesehatan, termasuk tes alergi untuk mengetahui penyebab kondisi pasien secara pasti. Umumnya, prosedur tesnya meliputi:
Tes cukit kulit, yaitu dengan meletakkan sedikit tetesan cairan ekstrak alergen di atas kulit lengan. Bagian tersebut kemudian akan ditusuk memakai jarum kecil steril. Jika muncul bentol kemerahan dan gatal dalam waktu 15–20 menit, artinya pasien mengalami alergi.
Tes tempel atau pemeriksaan dengan menempelkan stiker khusus berisi bahan pemicu pada kulit punggung selama 48 jam. Prosedur ini sangat efektif untuk mendeteksi reaksi alergi yang lambat.
Tes darah spesifik untuk mengukur tingkat antibodi Immunoglobulin E (IgE) terhadap pemicu tertentu yang mengalir di dalam pembuluh darah.
Diet eliminasi atau metode pemantauan medis dengan cara menghentikan konsumsi bahan makanan yang dicurigai sebagai pemicu selama beberapa minggu. Setelahnya, kembali dikonsumsi secara bertahap di bawah pengawasan medis ketat.
Pengobatan dan Penanganan Alergi Imunologi
Jika hasil tes menunjukkan hasil positif, lantas apa saja pengobatan atau penanganan yang direkomendasikan oleh dokter? Berikut adalah beberapa pilihannya.
Menghindari zat yang memicu reaksi atau respons sistem kekebalan tubuh.
Menggunakan obat-obatan sesuai gejala yang muncul–baik peradangan, bentol dan gatal, maupun penyumbatan hidung.
Terapi imun berupa suntikan atau tablet untuk melatih dan membiasakan sistem imun agar tidak bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu.
Menerapkan pola hidup sehat melalui istirahat yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan mengelola stres.
Jaga Kesehatan Tubuh dengan Pemeriksaan Berkala
Selain mengobati, tentu mengambil langkah pencegahan tetap menjadi solusi terbaik. Cara paling efektif adalah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Kebutuhan tersebut dapat Anda percayakan pada layanan Medical Check Up Plus dari Bumame.
Pemeriksaan ini mencakup tes hematologi lengkap, kolesterol, gula darah, asam urat, fungsi hati dan ginjal, serta organ lainnya. Melalui pemeriksaan berkala ini, dokter dapat mengevaluasi kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh. Manfaat utamanya tidak lain sebagai deteksi dini penyakit, termasuk alergi.
Kapan Harus ke Dokter Spesialis Alergi Imunologi?
Sayangnya, banyak orang cenderung menunda untuk berkonsultasi meskipun tubuh sudah menunjukkan gejala-gejala gangguan kesehatan. Apalagi jika reaksi tubuh yang muncul berupa kelelahan atau flu ringan. Mayoritas beranggapan bahwa pemeriksaan kesehatan itu rumit, padahal banyak yang sederhana seperti tes ferritin.
Namun, Anda tidak dapat lagi menunda jadwal konsultasi dengan spesialis alergi imunologi bila gangguan kesehatannya muncul berulang dan bertahan cukup lama. Apalagi, kondisi tidak kunjung pulih atau membaik sekalipun sudah mengonsumsi obat-obatan.
Selain itu, beberapa kondisi yang juga meningkatkan urgensi konsultasi, adalah:
Peradangan hebat dengan sensasi sesak napas di dada;
Kelopak mata atau bibir membengkak; dan
Anggota keluarga memiliki riwayat gangguan sistem kekebalan tubuh.
Evaluasi medis secara langsung saat sesi konsultasi ini sangat memudahkan dokter dalam memberikan diagnosis akurat, serta menentukan langkah penanganan yang tepat untuk Anda.
Langkah Bijak Mewujudkan Pertahanan Tubuh yang Optimal
Sistem kekebalan tubuh merupakan benteng utama yang bekerja tanpa henti untuk menjaga kesehatan dan melindungi diri dari berbagai penyakit. Ketika sistem pertahanan ini mengalami gangguan, baik alergi, autoimun, maupun penurunan fungsi, maka Anda wajib segera berkonsultasi dengan spesialis alergi imunologi.
Namun, kondisi-kondisi tersebut sejatinya tetap bisa Anda cegah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di Bumame. Pemicu dapat terdeteksi sejak awal sehingga bisa meminimalisir risiko gangguan kesehatan yang parah. Saatnya menjadikan langkah pencegahan ini sebagai investasi untuk kesehatan masa depan!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Eka Hospital (2023). Mengenal Jenis Gangguan Alergi dan Imunologi dan Cara Menanganinya.
American Academy of Allergy, Asthma & Immunology. (2023). Feel Better. Live Better. See an Allergist / Immunologist.
Mayo Clinic. (2024). Allergies.
Cleveland Clinic. (2026). Allergist.
Longdom Publishing SL. (2024). Allergy Immunology: Its Types, Diagnosis and Treatment.
National Library of Medicine (NLM). (2023). Allergic & immunologic disease: A practical guide to the evaluation, diagnosis and management of allergic and immunologic disease.
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. (2025). Kenali Penyakit Gangguan Imunologi.
American College of Allergy, Asthma, & Immunology. (2025).When Should You See an Immunologist? Recognizing the Signs of a Possible Immune Disorder.
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apakah gangguan sistem kekebalan tubuh bisa sembuh total?
Umumnya tidak bisa sembuh permanen, tetapi gejalanya dapat dikontrol dengan menghindari pemicu dan mendapatkan penanganan medis yang tepat.
_(1).jpg&w=3840&q=75)