Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Asfiksia Neonatorum: Gejala, Penyebab, dan Penanganan
Kembali ke Artikel & Berita

Asfiksia Neonatorum: Gejala, Penyebab, dan Penanganan

SBATips Kesehatan

Momen saat bayi lahir dan mulai menangis menjadi salah satu hal yang dinantikan oleh banyak orang tua. Namun, terkadang sebagian bayi ada yang tidak menangis dan perlu ditepuk-tepuk dahulu oleh tenaga medis untuk bisa bereaksi. Kondisi saat bayi tidak menangis ini bisa berkaitan dengan asfiksia neonatorum, yaitu gangguan saat bayi tidak bisa memulai atau mempertahankan pernapasannya secara efektif setelah dilahirkan.

Lalu, apa kira-kira penyebab dari kondisi ini dan apakah bisa dicegah? Artikel ini akan membahas berbagai hal tentang asfiksia bayi baru lahir mulai dari gejala, penyebab, hingga pencegahannya sehingga Anda bisa menghadapinya dengan baik.

Apa itu Asfiksia Neonatorum?

Asfiksia neonatorum atau asfiksia perinatal adalah kondisi saat bayi tidak mampu untuk bernapas secara spontan dan efektif segera setelah dia dilahirkan, sehingga pasokan oksigen di tubuhnya menjadi tidak tercukupi dan membuatnya tidak langsung menangis setelah lahir.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa membuat kerusakan pada organ vital bayi terutama otak dan jantung sehingga bisa mengganggu tumbuh kembang mereka nantinya.

Gejala Asfiksia Neonatorum yang Perlu Dikenali

Asfiksia perinatal biasanya langsung bisa diketahui dengan melihat bagaimana kondisi bayi segera setelah lahir, terutama dari pola napas, detak jantung, hingga warna kulit. Lebih jelasnya, berikut gejala-gejala gangguan ini.

  • Tidak ada tangisan bayi setelah lahir.

  • Bayi terlihat kesulitan bernapas yang ditandai dengan megap-megap, napas cepat, cuping hidung kembang kempis, tarikan dinding dada ke dalam, atau suara merintih saat bernapas.

  • Detak jantung sangat lambat.

  • Kulit bayi memucat atau membiru, terutama di bibir dan lidah.

  • Tubuh terlihat lemas dan kurang aktif.

  • Respons bayi sangat rendah, bahkan tidak ada.

  • Kejang-kejang bahkan tidak sadarkan diri, terutama pada level asfiksia yang sudah sangat berat.

Penyebab dan Faktor Risiko Asfiksia Neonatorum

Umumnya, terjadinya asfiksia perinatal ini karena bayi kekurangan oksigen sebelum, selama, atau sesaat setelah dia lahir. Adapun penyebabnya yaitu:

  • Aliran darah yang terhambat di plasenta, misalnya akibat dari plasenta yang lepas sebelum bayi lahir, sehingga pasokan oksigen ke janin jadi terganggu.

  • Masalah di tali pusat, seperti tali pusat yang tertekan, sehingga membuat aliran darah dan oksigen ke janin terhambat.

  • Adanya masalah pernapasan setelah lahir, sehingga membuat bayi tidak bisa bernapas secara spontan atau efektif untuk penuhi kebutuhan oksigen tubuhnya.

  • Masalah pertukaran oksigen di janin, yang bisa terjadi akibat dari komplikasi selama kehamilan atau persalinan sehingga membuat janin akhirnya kekurangan oksigen.

Selain itu, risiko untuk mengalami beberapa gangguan tersebut akan lebih tinggi pada kondisi tertentu, yakni saat:

  • Kesehatan ibu bermasalah, seperti menderita preeklamsia, eklampsia, anemia berat, diabetes, infeksi, hingga perdarahan selama kehamilan.

  • Komplikasi selama persalinan, seperti melahirkan yang lama atau sulit, atau ketuban pecah dini.

  • Kelahiran bayi yang tidak sesuai kondisi pada umumnya, seperti kelahiran prematur, berat badan lahir sangat rendah, atau ada kelainan bawaan tertentu.

  • Air ketuban bercampur mekonium, yaitu tinja pertama bayi, yang bisa berpotensi masuk ke saluran napas bayi yang kemudian mengganggu pernapasannya.

  • Kehamilan kembar, karena potensi gangguan pertumbuhan janin atau masalah pada plasenta jauh lebih tinggi pada kehamilan ini daripada normalnya.

  • Usia ibu terlalu muda atau lebih dari 35 tahun, karena risiko komplikasi kehamilan di usia ini biasanya lebih tinggi.

Bagaimana Asfiksia Neonatorum Didiagnosis?

Untuk mendiagnosis gangguan ini, biasanya dilakukan dengan menilai riwayat kehamilan dan persalinan, cek fisik kondisi bayi setelah lahir serta beberapa pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya.

  • Penilaian skor Apgar, dilakukan di menit pertama dan kelima setelah bayi lahir dengan cara menilai secara fisik bagaimana warna kulit, detak jantung, response reflex, tonus otot, dan usaha bernapas bayi. Skor yang rendah bisa berarti bayi mengalami asfiksia dan butuh bantuan medis segera.

  • Cek gas darah pada bayi, dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk menilai pH, kadar oksigen, dan karbon dioksida di dalamnya. Jika kadar oksigen rendah, kadar karbon dioksida tinggi, dan pH darah turun maka ada kemungkinan bayi terkena asfiksia neonatorum.

  • Cek fungsi organ, untuk tahu apakah kekurangan oksigen telah mengganggu kerja organ tubuh bayi atau tidak, karena asfiksia yang berat bisa menyebabkan gangguan fungsi organ.

  • Rontgen dada, umumnya dilakukan jika bayi terlihat mengalami gangguan pernapasan atau dicurigai punya masalah di paru-parunya. Pengecekan ini tidak hanya membantu mengevaluasi kondisi paru-paru, tetapi juga mengenali penyebab sebenarnya dari gangguan pernapasan yang bayi alami apakah karena asfiksia atau gangguan lain yang mirip.

  • Cek neurologis, untuk menilai tingkat kesadaran, tonus otot, dan refleks bayi, sehingga bisa mengidentifikasi sejauh mana akibat dari kekurangan oksigen.

  • Elektroencefalogram (EEG), biasanya dilakukan jika bayi dicurigai mengalami kejang atau ada gangguan di fungsi otaknya. Tujuannya untuk bisa menilai komplikasi neurologis akibat dari kekurangan oksigen.

  • USG kepala atau MRI otak, biasanya dilakukan jika terdapat dugaan cedera otak sebagai akibat dari kekurangan oksigen.

Selain itu, selama kehamilan, dokter biasanya akan merekomendasikan untuk cek kesehatan kandungan rutin. Pengecekan ini bisa meliputi USG kehamilan dan cek darah tertentu untuk deteksi risiko kelainan pada bayi sehingga bisa segera diberikan penanganan jika ada masalah dan risiko asfiksia pun bisa diminimalisir.

Bagi Anda yang ingin memantau kesehatan selama hamil, Bumame menyediakan Paket Ibu Hamil yang bisa jadi salah satu pilihan pengecekan.

Dalam satu paket ini sudah mencakup pemeriksaan hematologi lengkap, urine rutin, golongan darah, serum iron, glukosa puasa, serta skrining hepatitis B, sifilis, HIV, hingga infeksi TORCH. Dari sekian pemeriksaan tersebut, kondisi kesehatan ibu dan janin pun bisa dievaluasi dan diketahui lebih menyeluruh.

Cara Menangani Asfiksia Neonatorum

Untuk mengatasinya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh tenaga medis antara lain:

  • Melakukan resusitasi bayi baru lahir, dengan menjaga suhu tubuh, memosisikan jalan napas, mengeringkan, dan memberikan stimulasi sesuai dengan kebutuhan mereka.

  • Memberikan bantuan napas jika diperlukan, seperti ventilasi tekanan positif, CPAP (continuous positive airway pressure), ventilator, oksigen tambahan, atau terapi oksida nitrat inhalasi sesuai dengan level gangguan pernapasan yang bayi alami.

  • Terus memantau tanda-tanda vital, kadar oksigen, suhu tubuh, gula darah, dan fungsi organ bayi agar jika gejala muncul bisa langsung diatasi dengan cepat.

  • Memberikan cairan, nutrisi, dan obat-obatan kepada bayi untuk menjaga keseimbangan cairan, memenuhi kebutuhan energi mereka, serta menangani komplikasi seperti kejang atau tekanan darah yang tidak stabil.

  • Melakukan hipotermia terapeutik, yaitu dengan menurunkan suhu tubuh bayi secara terkontrol untuk mengurangi risiko cedera otak akibat dari kekurangan oksigen yang dialami.

  • Memantau tumbuh kembang bayi walaupun gejala sudah mulai menghilang untuk menilai perkembangan motorik dan fungsi sarafnya karena pada kekurangan oksigen berat seringkali muncul gangguan perkembangan atau kerusakan organ.

Apakah Asfiksia Neonatorum Bisa Dicegah?

Secara umum, tidak semua kasus asfiksia ini bisa dicegah, terutama jika terjadi karena komplikasi mendadak selama hamil atau persalinan. Namun, Anda bisa coba beberapa hal berikut untuk kurangi risiko dan memastikan bayi mendapatkan pertolongan segera.

  • Cek kehamilan secara rutin, untuk monitoring kesehatan ibu dan pertumbuhan janin sehingga jika ada masalah bisa dideteksi lebih awal untuk kemudian ditangani.

  • Mengatasi penyakit yang bisa meningkatkan risikonya seperti preeklamsia, diabetes, dan anemia, sesuai dengan anjuran dokter.

  • Terus pantau kondisi janin selama persalinan, sehingga jika ada tanda-tanda gangguan di janin bisa cepat dikenali dan ditangani.

  • Rencanakan persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai, sehingga jika terjadi asfiksia bisa diatasi dengan baik dan risiko komplikasi yang lebih berat bisa diminimalkan.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Cek ke dokter terkait asfiksia neonatorum seharusnya dilakukan oleh ibu selama hamil melalui paket cek kesehatan kehamilan dan konsultasi. Jadi, jika ada masalah dokter bisa langsung mendeteksi dan menentukan penanganan yang sesuai untuk kurangi risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan.

Selain itu, pemeriksaan juga penting untuk yang bayi sudah pulang dari rumah sakit, tapi muncul gejala seperti kesulitan bernapas, bibir atau lidah membiru, kejang, sulit menyusu, hingga hilang kesadaran karena ini bisa jadi tanda komplikasi. 

Tidak hanya itu, untuk bayi yang sudah sembuh pun, sebaiknya cek kesehatan tetap dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan dan tumbuh kembangnya, sehingga kemungkinan komplikasi bisa dikenali dan diatasi lebih cepat.

Jaga Kesehatan Ibu Selama Kehamilan

Asfiksia neonatorum adalah kondisi saat bayi baru lahir mengalami kekurangan oksigen sebelum, selama, atau segera setelah persalinan, akibat dari gangguan pernapasan. Jika tidak lekas ditangani dapat menimbulkan gejala seperti kulit kebiruan hingga hilang kesadaran. 

Untuk itulah, sebaiknya perlu melakukan tindak pencegahan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, terutama cek kesehatan secara rutin untuk membantu mendeteksi risiko lebih awal dan mencegah komplikasi. Untuk mendukung pemantauan kesehatan selama kehamilan ini, Anda bisa coba Paket Ibu Hamil Bumame. Hubungi WhatsApp Bumame untuk booking layanan ataupun konsultasi.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Mengenal Asfiksia Neonatorum

  2. Primaya Hospital — Bayi Baru Lahir Tidak Menangis? Waspadai Gejala Asfiksia Neonatorum

  3. RSUD Kabupaten Buleleng — Ketahui Penyebab Asfiksia Neonatorum pada Bayi

  4. Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM) — Faktor-Faktor yang Memengaruhi Risiko Terjadinya Asfiksia Neonatorum pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Hermina Purwokerto

  5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia — Pencegahan dan Penatalaksanaan Asfiksia Neonatorum

  6. Cerebral Palsy Guide — Birth Asphyxia

  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/214/2019

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa itu asfiksia neonatorum?

Asfiksia neonatorum adalah kondisi ketika bayi tidak mampu bernapas secara spontan dan efektif setelah lahir sehingga tubuhnya kekurangan oksigen. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat merusak organ vital, terutama otak dan jantung.

Apa saja gejala asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir?

Gejalanya meliputi bayi tidak langsung menangis, kesulitan bernapas, detak jantung lambat, kulit pucat atau membiru, tubuh lemas, dan respons yang rendah. Pada kasus berat, bayi dapat mengalami kejang atau kehilangan kesadaran.

Apa penyebab asfiksia neonatorum?

Penyebabnya antara lain gangguan aliran darah melalui plasenta, masalah pada tali pusat, gangguan pernapasan setelah lahir, serta komplikasi kehamilan atau persalinan. Risiko juga dapat meningkat pada kelahiran prematur, penyakit tertentu pada ibu, dan air ketuban bercampur mekonium.

Bagaimana asfiksia neonatorum ditangani?

Penanganan dilakukan oleh tenaga medis, antara lain melalui resusitasi bayi baru lahir, bantuan pernapasan, pemberian oksigen, pemantauan tanda vital, serta penanganan komplikasi. Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan hipotermia terapeutik untuk membantu mengurangi risiko cedera otak.

Apakah asfiksia neonatorum bisa dicegah?

Tidak semua kasus dapat dicegah. Namun, pemeriksaan kehamilan rutin, pengelolaan penyakit ibu sesuai anjuran dokter, pemantauan janin selama persalinan, serta pemilihan fasilitas persalinan dengan dukungan medis memadai dapat membantu mengurangi risiko dan mempercepat penanganan.