Buah hati yang tumbuh dengan sehat dan ceria merupakan hadiah tak ternilai untuk orang tua. Namun, terkadang realita tidak berjalan sesuai dengan harapan. Banyak kasus di lapangan menunjukkan adanya keterlambatan pada tumbuh kembang anak, salah satunya cerebral palsy.
Apa Itu Cerebral Palsy?
Dalam bahasa medis, “cerebral” memiliki arti “otak”, sedangkan “palsy” bermakna “kelemahan otot”. Jadi, secara spesifik, cerebral palsy merujuk pada gangguan motorik otak yang menyebabkan kesulitan koordinasi gerak tubuh.
Keterbatasan tersebut mencakup keleluasaan gerak, menjaga keseimbangan, serta mempertahankan postur tubuh. Kondisi tersebut bisa terjadi akibat kerusakan bagian otak (brain damage) yang mengontrol pergerakan otot. Oleh sebab itu, gangguan kesehatan ini juga disebut dengan istilah “lumpuh otak”.
Jenis-Jenis Cerebral Palsy
Melansir Centers for Disease Control and Prevention, kondisi “lumpuh otak” ini terbagi menjadi beberapa kelompok berbeda yang diklasifikasikan berdasarkan area otak yang terdampak dan efeknya pada otot. Berikut ini penjelasannya.
1. Tipe Spastik
Pada kondisi ini, pasien mengalami spastisitas, yaitu otot-otot terasa sangat kaku akibat ketegangan otot yang meningkat. Dampaknya, gerakan tubuh jadi terlihat kaku dan menyentak. Namun, biasanya hanya memengaruhi satu sisi tubuh, bisa bagian bawah lengan atau kaki.
2. Tipe Diskinetik
Ketika anak mengalami tipe diskinetik, mereka akan kesulitan mengontrol pergerakan tangan, lengan, kaki, dan telapak kaki. Menariknya, tingkat ketegangan ototnya berubah-ubah, misalnya satu waktu gerakannya sangat lambat dan meliuk-liuk, tapi di waktu lain sangat cepat dan menyentak.
3. Tipe Ataksik
Jenis berikutnya adalah ataksik yang berpengaruh terhadap keseimbangan dan persepsi ruang. Pengidap “lumpuh otak” tipe ini biasanya terlihat goyah saat berjalan dan kesulitan melakukan gerakan yang membutuhkan koordinasi tinggi, seperti menulis atau mengancingkan baju.
4. Tipe Campuran
Kategori terakhir adalah tipe campuran, di mana pasien menunjukkan gejala dari lebih dari satu jenis cerebral palsy secara bersamaan. Namun, kombinasi yang paling sering ditemukan adalah spastik dengan diskinetik. Meskipun lebih jarang, tapi ada pula yang menunjukkan gabungan tiga tipe sekaligus.
Penyebab Cerebral Palsy
Bagaimana kelumpuhan otak bisa terjadi sampai memengaruhi kebebasan dan koordinasi gerak anak? Menurut Cleveland Clinic, penyebabnya dibagi berdasarkan perkiraan waktu kerusakan sarafnya mulai terbentuk, yaitu sebelum lahir, selama proses kelahiran, dan setelah lahir.
1. Sebelum Lahir (Prenatal)
Gangguan cerebral palsy paling awal dapat terbentuk saat bayi masih berada dalam kandungan karena penyebab-penyebab berikut.
Infeksi virus rubella atau cacar air.
Mutasi genetik yang mengacaukan perkembangan otak janin.
Gangguan suplai darah ke otak bayi.
2. Selama Proses Kelahiran (Perinatal)
Jika selama masa kehamilan tidak terdeteksi gangguan yang berpotensi mengakibatkan kelumpuhan otak, bisa jadi kondisi tersebut dimulai saat proses kelahiran. Penyebab utamanya adalah proses persalinan yang sulit dan memakan waktu sangat lama.
Proses yang sulit tersebut mengakibatkan bayi mengalami asfiksia, yaitu kondisi kritis saat otak bayi kekurangan pasokan oksigen. Akibatnya, bayi mengalami cedera otak yang membuat tumbuh kembangnya di masa depan tidak optimal karena mengidap cerebral palsy.
3. Setelah Lahir (Postnatal)
Meskipun Si Kecil selalu sehat dalam kandungan hingga terlahir selamat tanpa masalah, tapi bukan berarti Anda bisa mengendurkan kewaspadaan. Sebab, cerebral palsy masih bisa terjadi akibat:
Infeksi parah pada jaringan selaput otak (meningitis);
Cedera kepala berat akibat terjatuh maupun kecelakaan pada tahun-tahun pertama kehidupan mereka.
Faktor Risiko Cerebral Palsy
Selain penyebab selama masa kehamilan, proses kelahiran, hingga setelah lahir, ada beberapa kondisi yang juga meningkatkan risiko kelumpuhan otak pada anak. Berikut adalah penjelasannya.
Bayi terlahir prematur di bawah usia kehamilan 37 minggu dan lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg. Risikonya lebih tinggi karena sistem sirkulasi pembuluh darah di otak belum sempurna hingga rentan terhadap perdarahan internal.
Bayi memiliki perbedaan rhesus golongan darah dengan ibunya yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh mereka saling menyerang. Kondisi ini memicu penyakit kuning parah dan bisa berkembang menjadi kerusakan otak akibat penumpukan bilirubin (kernikterus).
Kehamilan kembar dengan pembagian nutrisi yang tidak seimbang melalui satu plasenta, sehingga meningkatkan risiko kerusakan otak pada salah satu janin.
Persalinan dengan posisi kaki atau pantat bayi di bawah (sungsang) yang meningkatkan risiko bayi kekurangan oksigen hingga trauma fisik di area kepala akibat terlilit plasenta.
Gejala Cerebral Palsy
Mengidentifikasi gangguan gerak pada anak tentu perlu pemahaman tentang gejala-gejala yang ditimbulkan. Adapun ciri-ciri “lumpuh otak” pada anak adalah sebagai berikut.
Sebagian anak terlihat sangat kaku saat bergerak, sementara sebagian lainnya justru tampak lemas lunglai. Namun, saat sudah bergerak, mereka menunjukkan pola yang sama, yaitu merangkak menggunakan satu sisi tubuh, menyeret kaki saat berjalan, atau gemetar hebat.
Anak mengalami kesulitan menelan makanan (disfagia), sering tersedak, meneteskan liur berlebihan, dan mengalami keterlambatan bicara (speech delay).
Sebagian pasien menunjukkan gejala kejang, penglihatan yang kabur, serta penurunan daya pendengaran.
Diagnosis Cerebral Palsy
Kondisi “lumpuh otak” pada anak bukanlah gangguan medis sederhana. Mengenali gejala berguna untuk meningkatkan kesadaran (awareness) Anda terhadap penyakit tersebut. Sementara diagnosis tetap merupakan tugas dokter dan memerlukan pemeriksaan menyeluruh berikut ini.
Anamnesis atau wawancara terkait riwayat kehamilan, persalinan, dan tahun-tahun pertama kelahiran untuk mengetahui sumber kerusakan saraf.
Pemeriksaan fisik dan motorik pada anak dengan menilai postur, refleks, dan tingkat ketegangan otot.
Pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) untuk memeriksa langsung kondisi dalam otak anak dan menentukan jenis dan tingkat keparahan cerebral palsy yang anak derita.
Tes darah (hematologi) lengkap untuk mendeteksi faktor genetik atau perbedaan rhesus yang menjadi pemicu kelumpuhan otak tersebut.
Pemindaian MRI untuk mendapatkan gambaran utuh struktur jaringan otak anak dalam versi 3D yang sangat detail.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan tersebut, baru kemudian dokter dapat menegakkan diagnosis atas kondisi gangguan fungsi dan koordinasi gerak yang si kecil alami.
Komplikasi Cerebral Palsy
Meskipun penyakit ini tidak bisa sembuh total, tetapi melalui perawatan medis yang tepat, kemampuan motorik tersebut bisa terus ditingkatkan. Ironisnya, ada yang justru memilih menyerah untuk memberikan penanganan hanya karena label “tidak bisa sembuh sepenuhnya”.
Padahal, tanpa penanganan medis, kondisi pasien bisa semakin parah dan mengalami komplikasi seperti:
Kekakuan otot terus menerus membuat tulang dan persendian tertarik sehingga pertumbuhannya terhambat dan memendek permanen (kontraktur);
Malnutrisi parah karena semakin sulit mengunyah dan menelan, sehingga pertumbuhan fisik tidak optimal;
Penyakit nyeri sendi kronis (osteoarthritis) akibat tekanan abnormal pada persendian selama bertahun-tahun; dan
Depresi atau kecemasan berlebih (anxiety) akibat keterbatasan fisik yang membuat anak merasa minder berinteraksi secara sosial.
Pengobatan Cerebral Palsy
Jangan biarkan buah hati mengalami komplikasi dari kelumpuhan otak hanya karena label “tidak bisa sembuh total” tersebut. Langkah-langkah pengobatan berikut dapat Anda coba agar Si Kecil memiliki ruang gerak yang lebih luas, bisa beraktivitas secara mandiri, dan meredakan rasa nyeri yang menyiksa.
Latihan fisik (fisioterapi) untuk meningkatkan kekuatan dan keseimbangan otot serta kelenturan sendi.
Terapi okupasi yang bertujuan agar anak bisa melakukan aktivitas harian sederhana secara mandiri, seperti makan, berpakaian, dan menggenggam alat tulis.
Terapi wicara untuk melatih anak mengendalikan otot mulut, rahang, dan lidah yang membantu berbicara lebih jelas dan lebih mudah menelan makanan.
Obat-obatan pelemas otot sesuai resep dokter yang bisa meredakan nyeri dan kram otot.
Jika komplikasi berupa pertumbuhan terhambat sudah terlanjur terjadi, maka dokter perlu melakukan tindakan bedah ortopedi sebagai solusi untuk memanjangkan otot atau memperbaiki posisi tulang yang melengkung.
Pencegahan Cerebral Palsy
Kondisi “lumpuh otak” memang bersifat permanen, tapi Anda selalu memiliki kesempatan untuk mencegahnya terjadi. Tindakan preventif yang bisa Anda lakukan untuk untuk meminimalisir risikonya adalah:
Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin agar risiko komplikasi seperti rhesus darah berbeda maupun indikasi kelahiran prematur bisa terdeteksi sejak dini;
Mendapatkan vaksinasi lengkap untuk mencegah virus pemicu, seperti rubella; serta
Mencegah terjadinya cedera fisik saat hamil maupun di awal-awal masa kehidupan anak saat organ mereka belum berkembang sempurna.
Skrining Kesehatan Rutin untuk Meminimalisir Risiko Gangguan Medis
Selain rangkaian langkah pencegahan di atas, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin juga tidak kalah penting. Anda tidak perlu menunggu gejala penyakit apalagi komplikasinya muncul. Lakukan Medical Check Up Plus (MCU Plus) dari Bumame untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pemeriksaannya menggunakan sampel darah dan air kencing (urine) untuk memeriksa kadar gula darah dan kesehatan berbagai organ mulai ginjal, hati, hingga tulang dan persendian. Pada anak yang mengidap kelumpuhan otak, hasil pemeriksaan ini dapat menjadi acuan dokter untuk penanganan lanjutan.
Kapan Harus ke Dokter?
Tidak perlu ragu atau menunda berkonsultasi dengan dokter jika menemukan tanda-tanda yang mengarah pada gejala cerebral palsy. Misalnya, bayi terasa kaku saat digendong, sulit mengontrol gerak kepala, atau otot-ototnya mendadak tegang.
Selain itu, jika anak menunjukkan perilaku keterlambatan gerak dan bicara daripada teman-teman sebayanya, Anda harus lekas bersiap membawanya ke dokter. Jangan menganggap sepele gejala-gejala yang muncul agar Si Kecil bisa mendapatkan penanganan yang cepat dan akurat.
Mendukung Tumbuh Kembang Si Kecil dengan Penuh Cinta
Diagnosis “lumpuh otak” pada anak bukanlah sebuah akhir, melainkan tantangan bagi orang tua untuk mengupayakan pengobatan terbaik. Bukan untuk sembuh total, melainkan bentuk cinta agar buah hati Anda tetap bisa menjalani kehidupan normal seperti teman sebaya, meskipun memiliki keterbatasan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Mayo Clinic — Cerebral Palsy: Symptoms and Causes
Centers for Disease Control and Prevention — About Cerebral Palsy
Siloam Hospitals — Apa Itu Cerebral Palsy? Ini Penyebab, Gejala, & Penanganannya
Cleveland Clinic — Cerebral Palsy
RS Pondok Indah — Kenali dan Tangani Cerebral Palsy untuk Memaksimalkan Kualitas Hidup Penderitanya
MedlinePlus — Cerebral Palsy
National Library of Medicine — Cerebral Palsy in Children: A Clinical Overview
EMC Healthcare — Gejala Cerebral Palsy pada Anak: Kenali Tanda Dini dan Pentingnya Terapi Sejak Awal
National Institute of Neurological Disorders and Stroke — Cerebral Palsy
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apakah kelumpuhan otak bisa disembuhkan secara total?
Cerebral palsy umumnya tidak dapat disembuhkan secara total karena kerusakan otak yang mendasarinya bersifat permanen. Namun, terapi dan perawatan yang tepat dapat membantu meningkatkan kemampuan gerak, kemandirian, serta kualitas hidup anak.
Apakah cerebral palsy diturunkan secara genetik dari orang tua?
Cerebral palsy tidak selalu diturunkan secara genetik. Kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan otak, komplikasi selama kehamilan atau kelahiran, maupun cedera dan infeksi pada awal kehidupan.
Berapa lama harapan hidup penderita cerebral palsy?
Harapan hidup penderita cerebral palsy bervariasi, bergantung pada tingkat keparahan kondisi, komplikasi, serta akses terhadap perawatan kesehatan dan dukungan nutrisi. Sebagian penderita dapat hidup hingga dewasa.
Apakah anak dengan cerebral palsy bisa bersekolah di sekolah biasa?
Bisa. Anak dengan cerebral palsy dapat bersekolah di sekolah umum apabila kebutuhan belajar dan dukungannya terpenuhi. Penyesuaian lingkungan serta fasilitas dapat membantu anak mengikuti kegiatan belajar dengan lebih baik.
Apa terapi yang dapat membantu anak dengan cerebral palsy?
Penanganan dapat mencakup fisioterapi untuk melatih gerakan dan keseimbangan, terapi okupasi untuk mendukung aktivitas sehari-hari, terapi wicara untuk komunikasi dan menelan, serta obat sesuai resep dokter untuk mengatasi kekakuan atau nyeri otot.
