Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Hipertensi Gestasional Adalah: Gejala, Beda dengan Preeklamsia, dan Penanganannya
Kembali ke Artikel & Berita

Hipertensi Gestasional Adalah: Gejala, Beda dengan Preeklamsia, dan Penanganannya

SBAOthers

Seorang ibu datang ke kontrol kehamilan bulan ketujuh tanpa keluhan apa pun. Bidan mengukur tensinya dua kali, lalu berkata angkanya agak tinggi.

Tensi yang baru naik setelah pertengahan kehamilan bisa menjadi tanda hipertensi gestasional. Kondisi ini umumnya ringan, tetapi sebagian ibu kemudian mengalami preeklamsia. Bila tensi lebih dari 160/110 mmHg atau muncul sakit kepala hebat, pandangan kabur, sesak napas, atau nyeri ulu hati, segera ke IGD.

Artikel ini membahas arti kondisi ini, bedanya dengan preeklamsia, pemeriksaan yang biasa diminta dokter, hingga pemantauan setelah melahirkan.

Apa Itu Hipertensi Gestasional?

Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang pertama kali muncul setelah usia kehamilan 20 minggu. Istilah gestasional berarti berkaitan dengan masa kehamilan.

Menurut Kementerian Kesehatan, diagnosis ditegakkan bila tekanan sistolik (angka atas) 140 mmHg atau lebih atau diastolik (angka bawah) 90 mmHg atau lebih pada dua kali pengukuran berjarak minimal 4 jam. Pada kondisi ini tidak ditemukan protein di urine maupun tanda perburukan yang menjadi ciri preeklamsia. Ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.

MSD Manual mencatat tensi pada kondisi ini biasanya baru naik setelah 37 minggu. Menurut Cleveland Clinic, darah tinggi yang muncul setelah 20 minggu dan mereda setelah bayi lahir terjadi pada sekitar 6 sampai 8 persen kehamilan.

Penyebab dan Faktor Risiko Darah Tinggi saat Hamil

Penyebabnya belum diketahui, menurut Cleveland Clinic. Faktor berikut membuat seorang ibu lebih mungkin mengalaminya:

  • Kehamilan pertama atau kembar. Kehamilan pertama (primigravida) dan kehamilan ganda tercantum sebagai faktor risiko oleh Kementerian Kesehatan. NHS juga mencatat keduanya untuk preeklamsia.

  • Usia ibu. Kementerian Kesehatan menyebut usia di atas 35 tahun sebagai faktor risiko. Cleveland Clinic mencatat usia di bawah 20 tahun atau di atas 40 tahun.

  • Riwayat pribadi atau keluarga. Riwayat hipertensi gestasional atau preeklamsia di kehamilan sebelumnya menambah risiko. Riwayat serupa pada ibu kandung atau saudara perempuan juga perlu disampaikan ke dokter.

  • Diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit autoimun. Ketiganya tercantum dalam daftar Kementerian Kesehatan dan Cleveland Clinic. Sampaikan riwayat diabetes tipe 1, tipe 2, atau gestasional kepada dokter agar pemantauan disesuaikan.

  • Berat badan berlebih. Kementerian Kesehatan mencatat obesitas sebagai faktor risiko. Menjaga berat badan sehat sejak sebelum hamil membantu menurunkan risiko ini.

Gejala yang Perlu Diperhatikan Ibu Hamil

Cleveland Clinic menyebut kebanyakan orang tidak menyadari tensinya tinggi, sehingga kondisi ini sering baru ditemukan saat kontrol. Tanda berikut perlu diperhatikan karena bisa menandakan tensi memberat atau berkembang menjadi preeklamsia.

1. Sakit Kepala yang Tidak Kunjung Reda

NHS menyebut sakit kepala hebat yang tidak membaik dengan pereda nyeri biasa sebagai tanda yang perlu segera diperiksa. NHLBI juga mencatat sakit kepala yang makin berat sebagai tanda peringatan.

2. Pandangan Kabur atau Nyeri Ulu Hati

Pandangan kabur atau melihat kilatan cahaya termasuk tanda bahaya menurut Kementerian Kesehatan dan NHS. Nyeri di ulu hati (epigastrium) atau di bawah tulang rusuk juga masuk daftar ini, walau mudah tertukar dengan sakit maag.

3. Bengkak Mendadak di Wajah, Tangan, atau Kaki

NHS meminta bengkak yang muncul tiba-tiba di area ini segera diperiksakan. Keluhan kaki bengkak saat hamil yang bertambah cepat juga perlu dinilai bidan atau dokter.

4. Sesak Napas atau Badan Sangat Lelah

NHLBI mencatat lelah berlebihan, pusing, sulit bernapas, nyeri dada atau perut, dan mual sebagai tanda peringatan. Bila sesak terasa berat atau muncul nyeri dada, segera ke IGD.

Dampaknya bagi Ibu dan Janin

Kementerian Kesehatan menggolongkan kondisi ini sebagai jenis hipertensi kehamilan yang ringan. Pemantauan tetap diperlukan karena dampak berikut:

  • Berkembang menjadi preeklamsia. Cleveland Clinic menyebut sebagian ibu kemudian mengalami preeklamsia. Bila memberat, kondisi ini bisa memicu kejang (eklamsia) atau sindrom HELLP, menurut NHS.

  • Aliran darah ke plasenta berkurang. Cleveland Clinic menjelaskan tekanan darah tinggi bisa membuat plasenta kurang mendapat darah dan nutrisi. Akibatnya janin bisa tumbuh lebih kecil dari seharusnya, lahir dengan berat badan rendah, atau perlu dilahirkan lebih awal.

  • Gangguan pada ibu. MSD Manual mencatat risiko plasenta lepas sebelum waktunya (solusio plasenta), stroke, dan gagal ginjal. Pemantauan rutin membantu dokter mengenali perubahan lebih awal.

Apa Bedanya dengan Hipertensi Kronik dan Preeklamsia?

Ketiganya sama-sama ditandai tensi tinggi saat hamil, tetapi berbeda dalam waktu muncul, temuan di urine, dan perjalanannya.

Kondisi

Kapan muncul

Protein urine atau tanda gangguan organ

Setelah persalinan

Hipertensi kronik

Sudah ada sebelum hamil

Bisa disertai preeklamsia selama kehamilan

Menetap

Hipertensi gestasional

Setelah 20 minggu, biasanya setelah 37 minggu

Tidak ditemukan

Biasanya normal dalam 6 minggu

Preeklamsia

Umumnya setelah 20 minggu, bisa juga setelah melahirkan

Ditemukan

Gejala biasanya mereda, tensi tetap dipantau

Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.

Bila protein mulai ditemukan di urine atau muncul tanda gangguan organ, dokter akan menilainya sebagai preeklamsia. Hipertensi kronik sendiri adalah hipertensi yang sudah ada sebelum hamil, dan MSD Manual menyebut ibu dengan kondisi ini juga lebih mungkin mengalami preeklamsia.

Kapan Harus ke Dokter atau IGD?

Segera ke IGD bila tekanan darah lebih dari 160/110 mmHg, yang menurut NHLBI merupakan keadaan darurat medis, baik selama hamil maupun setelah melahirkan. Hal yang sama berlaku untuk sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri ulu hati, sesak, nyeri dada, bengkak mendadak, atau kejang. Kementerian Kesehatan menganjurkan ibu dengan tanda bahaya ini segera ke fasilitas kesehatan.

Jadwalkan konsultasi bila tensi di rumah berulang kali 140/90 mmHg atau lebih. NHS juga mencatat preeklamsia bisa muncul beberapa hari atau minggu setelah bayi lahir.

Cara Dokter Memastikan Diagnosis

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2021 memasukkan pengukuran tekanan darah dan tes laboratorium dalam standar pelayanan antenatal, dengan kontrol minimal 6 kali selama kehamilan. Bila tensi naik, dokter biasanya mengukurnya ulang lalu melanjutkan dengan pemeriksaan berikut:

  • Pemeriksaan urine. Dokter mencari proteinuria, yaitu protein yang lolos ke urine. Kementerian Kesehatan menyebut hasil dipstik +1 atau lebih sebagai tanda protein urine, dan ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.

  • Tes darah. Tes darah saat hamil menilai fungsi hati dan ginjal, menurut Cleveland Clinic. Hasilnya membantu dokter mencari tanda gangguan organ.

  • Pemantauan janin. USG fetomaternal, nonstress test, dan menghitung gerakan janin membantu memantau kondisi bayi. NHS menyebut USG dipakai untuk menilai pertumbuhan janin.

Peran Cek Protein Urine untuk Membedakannya dari Preeklamsia

Menurut MedlinePlus, ginjal yang sehat menahan molekul protein yang besar agar tidak terbuang lewat urine. Pada ibu dengan tensi tinggi, protein di urine menjadi salah satu tanda yang membedakan preeklamsia dari hipertensi gestasional, dan NHS menyebut urine diperiksa rutin saat kontrol kehamilan.

Bila dokter meminta cek urine tambahan, Bumame menyediakan pemeriksaan urine lengkap yang menilai protein, glukosa, darah, keton, nitrit, leukosit esterase, bilirubin, urobilinogen, pH, kontaminasi bakteri, dan kepekatan warna urine. Pemeriksaan ini tidak memerlukan puasa, tersedia secara Walk In atau Home Care, dan hasilnya keluar maksimal 1x24 jam.

MedlinePlus mencatat protein urine bisa naik sementara karena olahraga berat, kurang cairan, stres, atau kehamilan, jadi dokter bisa meminta tes ulang. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Bagaimana Hipertensi Gestasional Ditangani?

Menurut Cleveland Clinic, penanganan bergantung pada berat ringannya kondisi, kesehatan ibu, dan usia kehamilan. Langkahnya biasanya meliputi:

  • Kontrol lebih sering. Dokter menjadwalkan kunjungan lebih rapat dan meminta catatan tensi di rumah. Catatan ini menunjukkan arah perubahan tensi.

  • Obat penurun tekanan darah. Cleveland Clinic menyebut dokter bisa meresepkan obat bila tensi melewati 140/90 mmHg selama kehamilan. Jenis dan dosisnya ditentukan dokter, jadi jangan mengubahnya sendiri.

  • Rawat inap dan waktu persalinan. Bila tensi memberat, ibu bisa dirawat di rumah sakit untuk pemantauan. MSD Manual menyebut bayi umumnya dilahirkan pada usia kehamilan 37 sampai 39 minggu bila tensi cukup tinggi hingga sangat tinggi.

Apakah Tekanan Darah Kembali Normal setelah Melahirkan?

Umumnya ya. Kementerian Kesehatan menyebut tensi kembali normal setelah persalinan, dan MSD Manual mencatat kondisi ini biasanya mereda dalam 6 minggu. Tensi tetap perlu dipantau selama masa nifas karena lonjakan lebih dari 160/110 mmHg bisa terjadi setelah bayi lahir, menurut NHLBI.

Mengutip penelitian Riise dan rekan, Kementerian Kesehatan menyebut ibu dengan hipertensi selama kehamilan lebih berisiko terkena penyakit jantung koroner dan gagal jantung di kemudian hari. Kementerian Kesehatan juga menganjurkan ibu dengan riwayat ini memeriksakan tekanan darah minimal 1 kali setahun.

Langkah yang Membantu Menurunkan Risiko

Cleveland Clinic menyebut kondisi ini sulit dicegah karena penyebabnya belum diketahui. Kebiasaan berikut membantu menurunkan risiko:

  • Cek tensi sejak sebelum hamil. NHLBI menganjurkan pemantauan tensi sebelum, selama, dan setelah kehamilan. Angka awal ini membantu dokter membedakan hipertensi kronik dari hipertensi gestasional.

  • Jaga pola hidup sehat. Cleveland Clinic menganjurkan berat badan sehat, makan bergizi, olahraga teratur, cukup istirahat, dan menjauhi rokok serta alkohol. Jenis olahraga selama hamil disesuaikan dengan saran dokter.

  • Datang ke setiap jadwal kontrol. Cek tensi dan urine rutin membantu menemukan tanda awal preeklamsia pada ibu hamil lebih cepat. Bagi ibu berisiko tinggi, NHS menyebut dokter bisa memberi obat tertentu sejak minggu ke-12 atau suplemen kalsium.

Pantau Tensi dengan Teratur, Jalani Kehamilan dengan Lebih Tenang

Hipertensi gestasional umumnya ringan dan mereda setelah persalinan. Pemantauan tensi yang teratur membantu dokter mengenali perubahan lebih awal. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.

Bila ada pertanyaan seputar pemeriksaan selama kehamilan, chat CS Bumame.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Hipertensi dalam Kehamilan.

  2. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Efek Jangka Panjang Hipertensi Selama Kehamilan.

  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi, dan Pelayanan Kesehatan Seksual.

  4. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). Pregnancy and High Blood Pressure.

  5. Cleveland Clinic. High Blood Pressure (Hypertension) During Pregnancy.

  6. Friel LA (MSD Manual Consumer Version). High Blood Pressure During Pregnancy.

  7. NHS. Pre-eclampsia.

  8. MedlinePlus, National Library of Medicine. Protein in Urine.

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Hipertensi gestasional adalah kondisi seperti apa?

Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang pertama kali muncul setelah usia kehamilan 20 minggu. Diagnosis umumnya ditegakkan jika tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau diastolik 90 mmHg atau lebih, pada dua pengukuran berjarak minimal empat jam, tanpa protein urine atau tanda gangguan organ yang menunjukkan preeklamsia.

Apa perbedaan hipertensi gestasional dan preeklamsia?

Hipertensi gestasional ditandai tekanan darah tinggi setelah usia kehamilan 20 minggu tanpa protein urine atau tanda gangguan organ. Preeklamsia juga melibatkan tekanan darah tinggi, tetapi disertai protein urine atau tanda gangguan organ tertentu. Hipertensi gestasional dapat berkembang menjadi preeklamsia sehingga perlu dipantau.

Apa saja gejala hipertensi gestasional yang perlu diwaspadai?

Kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala. Namun, sakit kepala hebat yang tidak mereda, pandangan kabur, nyeri ulu hati, bengkak mendadak pada wajah atau tangan, serta sesak napas dapat menjadi tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan segera.

Apakah hipertensi gestasional berbahaya bagi ibu dan janin?

Hipertensi gestasional dapat berkembang menjadi preeklamsia dan meningkatkan risiko komplikasi pada ibu. Tekanan darah tinggi juga dapat mengurangi aliran darah ke plasenta sehingga pertumbuhan janin terganggu atau persalinan perlu dilakukan lebih awal. Pemantauan rutin membantu dokter mendeteksi perubahan kondisi.

Apakah tekanan darah akibat hipertensi gestasional kembali normal setelah melahirkan?

Umumnya, tekanan darah kembali normal dalam sekitar enam minggu setelah persalinan. Namun, tekanan darah tetap perlu dipantau selama masa nifas. Ibu dengan riwayat hipertensi selama kehamilan juga dianjurkan memeriksakan tekanan darah setidaknya sekali setahun karena risiko penyakit jantung di kemudian hari meningkat.