Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Sindrom HELLP: Gejala dan Beda dengan Preeklampsia
Kembali ke Artikel & Berita

Sindrom HELLP: Penyebab, Gejala, Risiko bagi Ibu dan Janin

SBAOthers

Kehamilan sering diwarnai perubahan tubuh yang terasa wajar, mulai dari mudah lelah hingga munculnya sakit kepala. Namun, jika keluhan tersebut disertai tekanan darah tinggi atau nyeri di bagian atas perut, kondisi ini perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan sindrom HELLP.

Apa Itu Sindrom HELLP?

Sindrom HELLP merupakan komplikasi kehamilan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi jika tidak segera ditangani. Kondisi ini sering berkaitan dengan preeklampsia berat, meskipun juga bisa terjadi tanpa tanda khas preeklampsia. Dalam beberapa sumber, kondisi ini juga disebut sebagai bentuk preeklampsia atipikal.

Istilah HELLP merupakan singkatan dari tiga karakteristik utama, yaitu hemolisis (Hemolysis), peningkatan kadar enzim hati (Elevated Liver Enzymes), dan jumlah trombosit yang rendah (Low Platelet Count). Ketiga kondisi tersebut menunjukkan adanya gangguan pada sel darah merah, fungsi hati, dan pembekuan darah yang perlu mendapatkan penanganan medis.

Sindrom ini umumnya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dan bisa muncul sebelum persalinan (antepartum). Tapi, sekitar 15–30% kasus dapat muncul pertama kali atau berkembang setelah persalinan (postpartum).

Apa Beda Preeklampsia Berat dan Sindrom HELLP?

Menurut jurnal yang ditulis oleh Warih Angeria, preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan adanya protein dalam urine (proteinuria). Kondisi ini berbeda dengan hipertensi yang terjadi akibat kehamilan (Pregnancy Induced Hypertension).

Preeklampsia perlu dicurigai ketika tekanan darah mencapai ≥140/90 mmHg. Tekanan darah ≥160/110 mmHg menunjukkan hipertensi berat yang membutuhkan penanganan segera karena dapat meningkatkan risiko komplikasi pada ibu.

Perbedaan utama preeklampsia berat dan HELLP syndrome terletak pada karakteristiknya. Preeklampsia berat ditandai dengan hipertensi berat dan/atau gangguan organ. Sedangkan HELLP syndrome ditandai oleh hemolysis (pecahnya sel darah merah), peningkatan enzim hati (elevated liver enzymes), dan trombosit rendah (low platelet count).

Tidak semua ibu dengan preeklampsia mengalami sindrom ini. Sebaliknya, sindrom dapat terjadi pada kondisi preeklampsia dan terkadang muncul tanpa hipertensi atau proteinuria yang jelas pada awalnya, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mendeteksinya.

Penyebab Sindrom HELLP

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyebab pasti HELLP syndrome masih belum diketahui. Namun, para ahli menduga kondisi ini berkaitan dengan interaksi beberapa faktor di bawah ini.

1. Gangguan Fungsi Plasenta

Pada kondisi preeklampsia, plasenta mungkin tidak berkembang dan berfungsi secara normal karena sel trofoblas tidak bisa masuk dan beradaptasi dengan pembuluh darah ibu secara optimal.

Akibatnya, pembuluh darah di sekitar plasenta tetap berukuran kecil dan lebih mudah mengalami penyempitan. Kondisi tersebut bisa mengurangi aliran darah dari ibu menuju plasenta sehingga pasokan oksigen dan nutrisi ke janin ikut berkurang. Jika berlangsung terus-menerus, jaringan tubuh pun akan kekurangan pasokan oksigen (iskemia).

2. Kerusakan Endotel dan Respon Inflamasi

Endotel merupakan lapisan tipis yang melapisi bagian dalam pembuluh darah. Pada pasien preeklampsia, zat yang dilepaskan oleh plasenta bisa memicu aktivasi dan kerusakan endotel. Kerusakan tersebut dapat terjadi akibat stres oksidatif dan menjadi salah satu proses awal yang berperan dalam perkembangan preeklampsia.

3. Gangguan Fungsi Hati

Kerusakan pada pembuluh darah kecil (mikrovaskular) juga dapat terjadi di hati. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya gumpalan darah kecil yang disebut mikrotrombus, sehingga aliran darah menuju jaringan hati menjadi terganggu.

Aliran darah yang tidak lancar bisa menyebabkan jaringan hati kekurangan oksigen (iskemia) dan mengalami kerusakan sel. Akibatnya, kadar enzim hati, seperti Aspartate Aminotransferase (AST) dan Alanine Aminotransferase (ALT), meningkat dan menunjukkan adanya gangguan fungsi hati.

4. Faktor Genetik dan Sistem Imun

Penelitian menunjukkan bahwa HELLP syndrome mungkin berkaitan dengan faktor genetik, tetapi kondisi ini tidak disebabkan oleh satu gen tertentu. Beberapa variasi gen yang diwariskan dari orang tua, faktor lingkungan, serta kondisi kehamilan sebelumnya turut meningkatkan risikonya.

Faktor Risiko Sindrom HELLP

Beberapa kondisi pada ibu hamil bisa meningkatkan risiko terjadinya HELLP syndrome. Oleh karena itu, ibu hamil perlu mengenali faktor-faktor risikonya sejak awal kehamilan agar dokter bisa melakukan pemantauan secara lebih tepat dan mendeteksi kemungkinan komplikasi sedini mungkin.

1. Riwayat Preeklampsia atau HELLP

Ibu yang mengalami preeklampsia atau sindrom HELLP pada kehamilan pertama memiliki risiko lebih tinggi mengalami sindrom yang sama di kehamilan berikutnya. Menurut jurnal yang ditulis oleh Malmström, jumlah kasus sindrom pada kehamilan kedua sekitar sepertiga dari jumlah kasus sindrom pada kehamilan pertama.

2. Usia Ibu

Usia ibu hamil yang lebih tua, terutama di atas 35 tahun, juga meningkatkan risiko terjadinya gangguan hipertensi selama kehamilan, termasuk kondisi yang berkaitan dengan HELLP syndrome.

Gejala HELLP Syndrome

Sindrom ini tentu menimbulkan beberapa gejala yang perlu diperhatikan selama kehamilan. Berikut ini penjelasannya.

  • Nyeri perut bagian atas: Umumnya, nyeri ulu hati atau perut bagian kanan atas menjadi tanda yang paling sering dan pertama terjadi.

  • Mual dan muntah: Gejala ini bisa bersifat berbahaya jika muncul secara berlebihan atau bersamaan dengan gejala lain.

  • Sakit kepala dan gangguan penglihatan: Beberapa kasus juga mengindikasikan kemunculan keluhan sakit kepala hebat hingga membuat pandangan kabur.

Risiko dan Bahaya Sindrom HELLP bagi Ibu dan Janin

Perkembangan penyebab-penyebab di atas yang berlangsung cepat membuat sindrom ini perlu segera dikenali dan ditangani karena berisiko menyebabkan komplikasi serius bagi ibu maupun janin.

1. Risiko dan Bahaya bagi Ibu

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada ibu akibat HELLP syndrome adalah sebagai berikut.

  • Pendarahan dan Gangguan Pembekuan Darah: Penurunan jumlah trombosit dan kerusakan pembuluh darah dapat mengganggu proses pembekuan darah. Pada kondisi yang lebih berat, gangguan tersebut dapat berkembang menjadi Disseminated Intravascular Coagulation (DIC).

  • Solusio Plasenta: Merujuk pada kondisi terlepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Kondisi ini bisa menyebabkan perdarahan pada ibu dan mengurangi suplai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan oleh janin.

  • Eklampsia: HELLP juga bisa berkaitan dengan eklampsia (kondisi serius yang ditandai dengan kejang), stroke, perdarahan otak, dan pembengkakan otak.

  • Gagal Ginjal Akut: Kerusakan pembuluh darah dan berkurangnya aliran darah ke organ menyebabkan gagal ginjal akut, yang membuat ginjal tidak mampu menyaring zat sisa dari darah dan mengatur keseimbangan cairan tubuh.

2. Komplikasi bagi Janin

Sementara bagi bayi dalam kandungan, sindrom HELLP menyebabkan risiko-risiko di bawah ini.

  • Kelahiran Prematur: Kondisi ibu yang memburuk akibat sindrom membuat dokter perlu melakukan persalinan darurat sebelum usia kehamilan cukup bulan. Akibatnya, bayi terlahir prematur dan menghadapi berbagai komplikasi karena organ tubuhnya belum berkembang secara optimal.

  • Pertumbuhan Janin Terhambat (FGR/IUGR): Terganggunya aliran darah menuju plasenta membuat janin tidak memperoleh oksigen dan nutrisi yang cukup, sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin selama berada di dalam kandungan.

  • Gangguan Pernapasan pada Bayi: Bayi prematur berisiko mengalami gangguan pernapasan karena paru-parunya mungkin belum berkembang secara optimal. Salah satu komplikasinya adalah Respiratory Distress Syndrome (RDS), kondisi ketika bayi kesulitan bernapas akibat kekurangan surfaktan di paru-paru.

  • Kematian Perinatal: Pada kasus yang lebih berat, kombinasi komplikasi prematuritas, hipoksia, solusio plasenta, dan gangguan pertumbuhan dapat meningkatkan risiko kematian bayi pada periode sekitar kelahiran.

Diagnosis Sindrom HELLP

Diagnosis tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan gejala yang dialami pasien. Dokter perlu menggabungkan hasil pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium serta membandingkannya dengan kondisi lain yang memiliki gejala atau hasil pemeriksaan serupa.

Pada tahap awal, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai beberapa tanda yang dapat mengarah pada sindrom, seperti:

  • Nyeri perut, terutama pada bagian kanan atas;

  • Pembengkakan pada kaki atau bagian tubuh lainnya;

  • Tekanan darah tinggi; dan

  • Proteinuria atau ditemukannya protein dalam urine.

Setelah pemeriksaan fisik, dokter dapat melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengevaluasi kondisi organ dan komponen darah, meliputi:

  • Tes fungsi hati, untuk mengetahui adanya gangguan fungsi hati.

  • Tes fungsi ginjal, untuk menilai kondisi dan fungsi ginjal.

  • Pemeriksaan jumlah trombosit, untuk mengetahui apakah terjadi penurunan kadar trombosit dalam darah.

  • USG atau CT scan, yang bisa dilakukan jika dokter mencurigai adanya komplikasi atau gangguan organ yang memerlukan pemeriksaan pencitraan lebih lanjut.

Dokter kemudian akan menilai tingkat keparahan kondisi berdasarkan hasil pemeriksaan, termasuk jumlah trombosit dalam darah. Pada klasifikasi yang menggunakan jumlah trombosit, kadar trombosit yang lebih rendah menunjukkan kondisi yang lebih berat dan membutuhkan penanganan medis secara lebih serius.

Penanganan dan Pengobatan Sindrom HELLP

Penanganan sindrom harus dilakukan segera untuk menstabilkan kondisi ibu, mencegah komplikasi, dan menjaga keselamatan janin. Dokter akan mempertimbangkan usia kehamilan serta tingkat keparahan gejala sebelum menentukan tindakan.

Jika usia kehamilan sudah 34 minggu atau lebih dan kondisi HELLP tergolong berat, dokter akan merekomendasikan persalinan segera. Bayi mungkin lahir prematur, tetapi gejala HELLP syndrome pada ibu umumnya mulai membaik setelah persalinan.

Jika kondisi ibu dan janin masih memungkinkan untuk mempertahankan kehamilan, dokter dapat melakukan pemantauan dan memberikan penanganan sambil menunggu perkembangan janin, seperti:

  • Obat penurun tekanan darah untuk mengontrol hipertensi;

  • Transfusi darah atau trombosit jika kadar trombosit sangat rendah atau terjadi perdarahan;

  • Magnesium sulfat untuk mencegah atau menangani kejang pada kondisi tertentu.

  • Kortikosteroid untuk membantu mempercepat pematangan paru-paru janin jika persalinan dini kemungkinan diperlukan.

  • Pemeriksaan darah untuk memantau fungsi hati, jumlah trombosit, dan kondisi ibu secara berkala.

Persiapkan Kehamilan dengan Pemeriksaan Kesuburan

Riwayat sindrom HELLP tidak selalu menyebabkan infertilitas, tetapi evaluasi kesehatan reproduksi dapat menjadi bagian dari persiapan sebelum merencanakan kehamilan berikutnya. Pemeriksaan kesuburan wanita di Bumame mencakup pemeriksaan LH, FSH, estradiol, progesteron, prolaktin, dan TSHs untuk membantu mengevaluasi kondisi hormonal dan reproduksi.

Kehamilan berikutnya dengan riwayat HELLP memerlukan konsultasi medis dan pemantauan yang sesuai. Selain pemeriksaan kesuburan, Bumame juga menyediakan informasi mengenai persiapan pemeriksaan sebelum hamil untuk membantu Anda merencanakan kehamilan dengan lebih matang.

Kapan Harus ke Dokter?

Ibu hamil perlu segera memeriksakan diri jika mengalami gejala yang mengarah pada HELLP syndrome, terutama nyeri ulu hati atau perut bagian kanan atas. Jangan menunggu jadwal kontrol berikutnya karena HELLP dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius pada ibu maupun janin.

Langkah Kecil untuk Kehamilan yang Lebih Aman

Kehamilan membutuhkan perhatian terhadap kesehatan ibu dan janin, termasuk dengan mengenali tanda sindrom HELLP. Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan segera mencari pertolongan ketika muncul keluhan dapat membantu mendeteksi masalah lebih awal sehingga penanganan dapat diberikan dengan tepat.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. P, Warih Angesti; Ernawati, Ernawati; and Susanti, Dwi. (2016). Characteristics of hellp syndrome in severe preeclampsia patients in dr. Soetomo hospital surabaya, Folia Medica Indonesiana: Vol. 51: No. 4, Article 10.

  2. Emedicine. (2024). HELLP Syndrome.

  3. Best Practice. (2026). HELLP Syndrome.

  4. L.A. Magee et al. (2022). Pregnancy Hypertension: An International Journal of Women’s Cardiovascular Health 27. 148–169.

  5. Abildgaard U, Heimdal K. (.n.d). Pathogenesis of the syndrome of hemolysis, elevated liver enzymes, and low platelet count (HELLP): a review. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2013 Feb;166(2):117-23. doi: 10.1016/j.ejogrb.2012.09.026. Epub 2012 Oct 26. PMID: 23107053.

  6. Benedetto C, Marozio L, Tancredi A, Picardo E, Nardolillo P, Tavella AM, Salton L. (.n.d). Biochemistry of HELLP syndrome. Adv Clin Chem. 2011;53:85-104. doi: 10.1016/b978-0-12-385855-9.00004-7. PMID: 21404915.

  7. Cleveland Clinic. (2024). HELLP Syndrome.

  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Buku Ajar Kegawatdaruratan Anestesi Obstetri.

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu sindrom HELLP?
Sindrom HELLP adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan hemolisis, peningkatan enzim hati, dan jumlah trombosit yang rendah. Kondisi ini sering berkaitan dengan preeklampsia berat dan dapat mengancam keselamatan ibu maupun janin. 
Apa saja gejala sindrom HELLP?

Gejala yang dapat muncul meliputi nyeri perut bagian atas atau kanan atas, mual dan muntah, sakit kepala berat, serta gangguan penglihatan. 

Apa perbedaan preeklampsia berat dan sindrom HELLP?
Preeklampsia berat ditandai oleh hipertensi berat dan/atau gangguan organ, sedangkan HELLP ditandai oleh hemolisis, peningkatan enzim hati, dan trombosit rendah. HELLP juga dapat muncul tanpa hipertensi atau proteinuria yang jelas pada awalnya. 
Apa risiko sindrom HELLP bagi ibu dan janin?
Pada ibu, HELLP dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah, solusio plasenta, eklampsia, stroke, dan gagal ginjal akut. Pada janin, risikonya meliputi kelahiran prematur, pertumbuhan janin terhambat, gangguan pernapasan, hingga kematian perinatal. 
Bagaimana sindrom HELLP ditangani?
Penanganan dilakukan segera dengan mempertimbangkan usia kehamilan dan tingkat keparahan kondisi. Tindakan dapat meliputi persalinan segera, obat penurun tekanan darah, transfusi darah atau trombosit, magnesium sulfat, kortikosteroid, serta pemantauan kondisi ibu secara berkala.