Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Anak Susah Makan: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kapan Perlu ke Dokter
Kembali ke Artikel & Berita

Anak Susah Makan: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kapan Perlu ke Dokter

SBATips Kesehatan

Nasi dan lauk masih utuh setelah setengah jam, sendok terus ditolak, dan si kecil hanya mau minum susu. Pemandangan ini akrab bagi banyak orang tua, apalagi saat anak memasuki usia batita.

Sering kali, susah makan berkaitan dengan fase perkembangan dan kebiasaan makan di rumah. Sebagian kecil perlu diperiksa dokter karena berat badannya tertahan atau ada keluhan lain yang menyertai.

Artikel ini membahas kapan susah makan masih wajar, pemicunya, aturan makan yang membantu, dan tanda yang perlu dibawa ke dokter.

Apakah Anak Susah Makan Masih Tergolong Wajar?

Pada banyak anak, jawabannya ya. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut penolakan terhadap makanan baru, yang disebut neofobia, sebagai hal yang normal dalam fase perkembangan anak. Penolakan ini sering muncul pada usia 1 sampai 3 tahun dan dipandang sebagai mekanisme pertahanan alami agar anak terhindar dari bahan beracun.

Nafsu makan juga berubah seiring usia. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), laju pertumbuhan anak melambat setelah masa bayi yang pesat, dan nafsu makannya ikut menurun. NHS menyebut anak yang aktif, berat badannya naik, dan tampak sehat umumnya sudah makan dalam jumlah cukup.

IDAI juga membedakan dua pola. Anak picky eater mau mencoba berbagai jenis makanan, tetapi menolak makan dalam jumlah yang cukup. Anak selective eater menolak semua makanan dari kelompok tertentu, misalnya seluruh sayur atau seluruh lauk hewani, sehingga berisiko kekurangan zat gizi tertentu.

Fase Pilih-pilih Makanan atau Tanda yang Perlu Diperiksa?

Orang tua sering bingung membedakan fase pilih-pilih makanan dengan masalah makan yang perlu ditangani. Menurut MSD Manual, anak yang pilih-pilih makanan biasanya hanya menolak beberapa jenis makanan, nafsu makannya normal, total asupannya cukup, serta ia tumbuh dan berkembang dengan normal.

Yang Diamati

Umumnya Fase Pilih-pilih

Perlu Dinilai Dokter

Makanan yang ditolak

Beberapa jenis saja, terutama makanan baru

Seluruh kelompok makanan, misalnya semua sayur atau semua lauk

Nafsu makan

Normal, dengan total asupan harian yang cukup

Makan sangat sedikit hampir setiap hari

Berat badan

Terus naik mengikuti garis pertumbuhannya

Turun, tidak naik, atau garisnya terus menurun di grafik pertumbuhan

Saat makan

Anak tetap nyaman meski menolak sebagian makanan

Sering batuk, tersedak, muntah, sesak, atau tampak kesakitan

Keseharian

Aktif dan tampak sehat

Tampak lemas atau sakit dalam waktu lama

Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.

Pemicu Anak Susah Makan yang Sering Ditemui

IDAI menyebut penyebab sulit makan sangat beragam, mulai dari penyakit yang mendasari hingga faktor lingkungan, terutama keluarga. Penyebab yang banyak dijumpai adalah cara pemberian makan yang kurang tepat, baik dari komposisi, tekstur, maupun tata caranya. Pemicu yang sering ditemui antara lain:

  • Perut sudah kenyang oleh susu atau camilan. Susu yang diberikan terlalu banyak membuat anak merasa kenyang, sehingga nafsu makannya berkurang saat jam makan tiba. Camilan yang terlalu sering juga membuat anak datang ke meja makan tanpa rasa lapar. Perhatikan pula kadar gula dan garam dalam makanan anak, terutama pada camilan kemasan.

  • Suasana makan yang penuh tekanan. IDAI menyebut tekanan selama proses makan, tipe kepribadian anak, dan pengaruh lingkungan ikut membentuk kebiasaan pilih-pilih makanan. Anak yang dipaksa, terus dibujuk, atau dimarahi bisa menganggap waktu makan sebagai saat yang tidak menyenangkan.

  • Jadwal makan yang tidak teratur. Menurut IDAI, jadwal makan yang teratur ikut membantu menumbuhkan nafsu makan anak. Tanpa jadwal yang jelas, rasa lapar belum tentu terbentuk saat jam makan tiba.

  • Masalah kesehatan. Refluks asam lambung, kesulitan mengunyah atau menelan, dan gangguan penyerapan di usus bisa memengaruhi kemampuan anak untuk makan dan mencerna makanan. Anak yang tampak kesakitan saat makan, misalnya karena sariawan, juga cenderung menolak makan.

  • Suasana keluarga yang tegang. MSD Manual menjelaskan bahwa situasi keluarga yang penuh tekanan atau hubungan yang kurang baik dengan pengasuh bisa memengaruhi pertumbuhan anak. Stres ini bisa memicu hormon yang mengurangi efek hormon pertumbuhan.

Cara Mengatasi Anak Susah Makan di Meja Makan

IDAI merangkum aturan makan atau feeding rules yang bisa diterapkan di rumah secara konsisten dan tenang:

  • Tetapkan jadwal makan dan camilan. Sajikan makanan utama dan camilan pada jam yang teratur, dengan jarak minimal 3 jam di antara waktu makan. NHS menyebut dua kali camilan sehat sehari sudah cukup, dan saat makan berlangsung, jangan tawarkan camilan lain selain minum.

  • Batasi lama makan. Waktu makan sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Bila setelah 10 sampai 15 menit anak tetap menolak, akhiri sesi makan dengan tenang dan tawarkan lagi pada jadwal berikutnya. Menurut NHS, piring cukup diangkat tanpa komentar.

  • Sajikan porsi kecil. Porsi kecil terasa lebih ringan bagi anak dan bisa ditambah bila ia masih lapar. Beri pujian saat anak mau makan, meski hanya sedikit.

  • Dorong anak makan sendiri. Biarkan anak memegang sendok atau mengambil makanan dengan tangannya sesuai kemampuannya. Letakkan makanan di meja yang mudah dijangkau agar ia bisa memilih dan mencoba sendiri.

  • Kenalkan makanan baru berulang kali. Penolakan pertama belum berarti anak tidak suka. IDAI menyarankan makanan baru dikenalkan 10 sampai 15 kali, sedangkan AAP menyebut anak bisa butuh 10 kali atau lebih mencicipi suatu makanan sebelum menerimanya.

  • Makan bersama tanpa layar. Anak belajar dengan meniru, sehingga kebiasaan makan orang tua ikut membentuk kebiasaan makannya. Ajak anak duduk bersama saat keluarga makan, lalu matikan televisi dan simpan gawai serta mainan.

  • Tawarkan makanan secara netral. Saat anak menolak, tawarkan kembali tanpa membujuk atau memaksa. IDAI juga mengingatkan orang tua untuk tetap tenang, tanpa panik atau marah.

  • Hindari makanan sebagai hadiah. Menjanjikan permen setelah anak menghabiskan sayur bisa membuatnya menganggap makanan manis menyenangkan dan sayur tidak enak. IDAI dan NHS sama-sama menyarankan untuk tidak menjadikan makanan sebagai hadiah.

Tanda Anak Susah Makan yang Perlu Dibawa ke Dokter

Bila aturan makan sudah dijalankan secara konsisten tetapi anak tetap sulit makan, IDAI menyarankan konsultasi dengan dokter spesialis anak atau ahli gizi. Periksakan anak lebih awal bila muncul tanda berikut:

  • Berat badan turun atau tidak naik. IDAI memasukkan berat badan yang tidak naik-naik ke dalam daftar tanda yang perlu diperiksakan. Berat badan yang turun juga perlu dinilai dokter.

  • Garis pertumbuhan menurun. Dokter membandingkan berat dan tinggi anak dengan anak seusia dan sejenis kelamin di grafik pertumbuhan. Menurut MSD Manual, berat bayi yang turun tajam dari garis yang tinggi ke garis rata-rata dalam waktu singkat pun perlu diperhatikan. Penurunan seperti ini termasuk tanda gangguan tumbuh kembang, dan catatan berat anak bisa dibandingkan dengan berat badan ideal anak menurut WHO.

  • Batuk, tersedak, atau muntah saat makan. Anak yang sering batuk, tersedak, sulit menelan, atau mengalami muntah berulang perlu diperiksakan. Keluhan ini bisa berkaitan dengan gangguan mengunyah atau menelan.

  • Lemas, sesak, atau kesakitan saat makan. Anak yang selalu tampak lemas atau sesak saat makan atau menyusu perlu diperiksa. Hal yang sama berlaku bila ia tampak kesakitan saat makan.

  • Diare atau sakit yang berlangsung lama. Diare berdarah atau diare berkepanjangan termasuk tanda yang perlu diperiksakan. Infeksi dan penyakit kronis, seperti penyakit jantung, ginjal, hati, atau pencernaan, juga termasuk penyebab medis gangguan pertumbuhan.

  • Menolak seluruh kelompok makanan. Anak yang menolak semua makanan dari kelompok tertentu berisiko kekurangan zat gizi. Bicarakan dengan dokter, terutama bila pola ini berlangsung lama.

Apa yang Diperiksa Dokter saat Anak Sulit Makan?

Dokter biasanya memulai dengan pertanyaan seputar pola makan, kebiasaan buang air besar, serta kondisi sosial dan emosional keluarga. Berat dan tinggi badan anak lalu dipetakan pada grafik pertumbuhan untuk melihat arahnya. Menurut MSD Manual, keputusan untuk melakukan tes darah, feses, urine, atau rontgen diambil berdasarkan hasil penilaian ini.

Dokter juga menilai apakah pola makan anak masih tergolong pilih-pilih atau mengarah ke avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID). ARFID adalah gangguan makan berupa makan sangat sedikit atau menghindari makanan tertentu, misalnya karena warna, kekentalan, atau aromanya. Gangguan ini bisa menyebabkan berat badan turun, pertumbuhan lebih lambat dari harapan, kesulitan mengikuti kegiatan sosial, dan kekurangan gizi.

Penanganan disesuaikan dengan penyebabnya. Anak dengan gangguan pertumbuhan mendapat pola makan bergizi dengan kalori yang cukup, dan pada kondisi berat dokter bekerja bersama ahli gizi, terapis makan, serta tenaga kesehatan lain. Pemantauan pertumbuhan seperti ini juga menjadi bagian dari tes tumbuh kembang anak.

Peran Tes Darah bila Anak Lama Makan Sedikit

Anak yang lama makan sedikit, terutama bila jarang menyentuh lauk sumber zat besi, berisiko kekurangan zat gizi. Kementerian Kesehatan menyebut kurangnya asupan makanan bergizi, terutama yang mengandung zat besi, asam folat, vitamin B12, dan protein, bisa mengganggu pembentukan sel darah merah. Kondisi ini bisa berujung pada anemia, dengan keluhan lesu, letih, dan lemah yang termasuk ciri-ciri anemia.

Bila dokter menilai perlu, tes darah lengkap membantu memeriksa kadar hemoglobin dan sel darah anak. Bumame menyediakan Paket Tumbuh Kembang Basic. Halaman produknya mencantumkan hematologi lengkap, glukosa sewaktu, serum iron, TIBC, dan ferritin, tanpa persiapan khusus, dengan pilihan Walk In atau Home Care.

Ciptakan Waktu Makan yang Menyenangkan untuk Si Kecil

Jadwal makan yang teratur, porsi kecil, suasana tenang, dan kesabaran menawarkan makanan baru membantu anak belajar menikmati waktu makan. Pantau berat badan dan garis pertumbuhannya secara rutin untuk memastikan kebutuhan gizi harian anak terpenuhi.

Bila salah satu tanda di atas muncul, konsultasi lebih awal membantu dokter menemukan penyebabnya. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Untuk informasi pemeriksaan di klinik Bumame, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Sulit Makan pada Bayi dan Anak.

  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pilih-pilih Makanan (Food Pickiness).

  3. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Penanganan Kesulitan Makan (Feeding Difficulty) pada Si Kecil.

  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Anemia.

  5. NHS. Fussy Eaters.

  6. American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org. 10 Tips for Parents of Picky Eaters.

  7. MSD Manual Consumer Version. Growth and Weight Faltering in Children.

  8. MSD Manual Consumer Version. Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID).

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apakah anak susah makan itu normal?

Ya, terutama pada anak usia 1–3 tahun yang mulai menolak makanan baru. Selama anak tetap aktif, terlihat sehat, dan berat badannya bertambah sesuai garis pertumbuhan, kondisi ini umumnya masih wajar.

Apa penyebab anak susah makan?

Penyebabnya antara lain terlalu banyak minum susu atau makan camilan, jadwal makan tidak teratur, suasana makan yang penuh tekanan, serta masalah kesehatan seperti refluks asam lambung atau kesulitan menelan.

Bagaimana cara mengatasi anak susah makan?

Terapkan jadwal makan teratur, berikan porsi kecil, batasi waktu makan maksimal 30 menit, dan hindari penggunaan layar. Tawarkan makanan baru berulang kali dengan tenang tanpa memaksa atau memarahi anak.

Berapa kali makanan baru perlu ditawarkan kepada anak?

Menurut IDAI, makanan baru dapat diperkenalkan sebanyak 10–15 kali. Penolakan pada percobaan pertama tidak selalu berarti anak tidak menyukainya, sehingga orang tua perlu tetap sabar dan menawarkan kembali.

Kapan anak susah makan harus dibawa ke dokter?

Periksakan anak jika berat badannya turun atau tidak bertambah, garis pertumbuhannya menurun, sering batuk atau tersedak saat makan, muntah berulang, atau mengalami diare berkepanjangan. Anak yang menolak seluruh kelompok makanan juga perlu dievaluasi untuk mencegah kekurangan gizi.