Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Sindrom Metabolik: Penyebab dan Kriteria
Kembali ke Artikel & Berita

Sindrom Metabolik: Penyebab, Gejala, dan Kriteria Diagnosis

SBAOthers

Kebiasaan duduk terlalu lama, jarang berolahraga, atau kerap memilih makanan yang tinggi lemak dan gula mungkin terasa seperti hal-hal kecil dalam keseharian. Akan tetapi, ketika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut bisa menimbulkan sindrom metabolik.

Ini adalah kumpulan beberapa gangguan kesehatan yang terjadi dalam waktu bersamaan. Selain itu, sindrom metabolik tidak selalu mengakibatkan keluhan yang mudah dikenali. Maka dari itu, pemeriksaan seperti lingkar pinggang, tekanan darah dan gula darah, dan profil lemak perlu diperhatikan.

Apa Itu Sindrom Metabolik?

Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko yang meliputi penumpukan lemak di sekitar perut, obesitas abnormal, hipertensi, kadar gula darah puasa meningkat, kadar kolesterol HDL rendah, dan trigliserida tinggi.

Berbagai kondisi tersebut bisa muncul bersamaan serta meningkatkan risiko penyakit diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Dalam praktik klinis, ada beberapa kriteria dalam menentukan sindrom metabolik. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah ketika Anda mempunyai setidaknya tiga dari lima faktor tersebut.

Sementara itu, kriteria dari International Diabetes Federation (IDF) menempatkan obesitas sentral sebagai komponen utama yang juga disertai setidaknya dua faktor lain.

Penyebab Sindrom Metabolik

Penyebabnya tidak berasal dari satu faktor saja. Salah satu mekanisme yang berperan adalah resistensi insulin, yaitu saat sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal sehingga mengakibatkan pengaturan gula darah menjadi lebih sulit.

Penumpukan lemak, khususnya di area perut, juga bisa berpengaruh terhadap metabolisme lemak dan gula yang berhubungan dengan proses peradangan dalam tubuh. Kondisi ini lalu bisa berjalan bersama dengan hipertensi, HDL rendah, dan kadar trigliserida yang tinggi.

Selain itu, pola makan yang kurang sehat dan aktivitas fisik yang kurang turut berperan. WHO menyebutkan bahwa pola makan tidak sehat dan aktivitas fisik yang kurang merupakan faktor perilaku yang bisa berkontribusi terhadap beragam faktor risiko metabolik.

Faktor Risiko Sindrom Metabolik

Faktor risiko sindrom metabolik bisa berasal dari kebiasaan sehari-hari atau kondisi yang sulit untuk diubah. Beberapa di antaranya adalah:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas, terutama penumpukan lemak di sekitar perut;

  • Kurang aktivitas fisik, seperti terlalu banyak duduk dan jarang berolahraga, sehingga tekanan darah relatif tinggi;

  • Riwayat keluarga, khususnya saat terdapat anggota keluarga yang memiliki diabetes atau gangguan metabolik;

  • Pola makan tidak seimbang, terutama mengonsumsi makanan tinggi gula, kalori, garam, atau lemak secara berlebihan;

  • Pertambahan usia, karena risiko cenderung bisa meningkat seiring dengan bertambahnya usia;

  • Kebiasaan merokok serta mengonsumsi alkohol secara berlebihan;

  • Kurang tidur atau mengalami gangguan tidur tertentu, termasuk sleep apnea; dan

  • Kondisi tertentu seperti PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) juga bisa berhubungan dengan peningkatan risiko.

Itu artinya, Anda tidak harus mempunyai berat badan berlebih untuk terkena gangguan metabolik. Faktor lainnya seperti usia, pola hidup, genetik, serta kondisi kesehatan tertentu juga harus Anda perhatikan.

Gejala Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik sering kali tidak menunjukkan gejala yang khas. Anda bisa mengalami hipertensi, HDL rendah, atau trigliserida meningkat tanpa merasakan keluhan apa pun.

Tanda yang terlihat bisa berupa lingkar pinggang yang semakin besar. Sementara itu, jika kadar gula darah meningkat, Anda berpotensi mengalami keluhan seperti lebih sering buang air kecil, mudah lelah, lebih sering haus, atau penglihatan kabur.

Karena keluhannya bersifat samar hingga bahkan cenderung tidak ada, pemeriksaan kesehatan menjadi langkah yang penting, khususnya bagi Anda yang mempunyai beberapa faktor risiko.

Diagnosis Sindrom Metabolik

Diagnosis terhadap sindrom metabolik dilakukan lewat pemeriksaan dan sejumlah tes agar bisa menilai lima komponen utama. Beberapa pemeriksaan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Mengukur Lingkar Pinggang

Lingkar pinggang digunakan untuk melihat apakah Anda mengalami obesitas sentral atau penumpukan lemak di sekitar perut. Untuk populasi usia, IDF menerapkan kriteria berupa ambang batas 90 cm pada pria dan 80 cm pada wanita.

2. Mengukur Tekanan Darah

Tekanan darah 130/80 mmhG atau lebih termasuk salah satu komponen yang dipertimbangkan dalam kriteria sindrom metabolik. Penggunaan obat untuk penyakit hipertensi juga bisa menjadi pertimbangan dalam penilaian.

3. Memeriksa Gula Darah Puasa

Pemeriksaan gula darah dilakukan setelah berpuasa, biasanya selama 8–12 jam. Kadar gula darah puasa 100 mg/dL atau lebih adalah salah satu batas yang diterapkan dalam kriteria sindrom metabolik.

4. Memeriksa Trigliserida

Trigliserida adalah salah satu jenis lemak dalam darah. Kadar 150 mg/dL atau lebih, atau saat Anda sedang memperoleh terapi untuk gangguan trigliserida, bisa menjadi salah satu komponen yang dipertimbangkan dalam sindrom metabolik.

5. Memeriksa Kolesterol HDL

HDL sering disebut sebagai kolesterol baik karena berperan dalam membawa kolesterol dari jaringan tubuh untuk kembali ke hati. Dalam kriteria sindrom metabolik, kadar HDL untuk pria adalah kurang dari 40 mg/dL dan kurang dari 50 mg/dL untuk wanita.

Nantinya, dokter akan menilai hasil pemeriksaan tersebut secara menyeluruh karena batas dan pendekatan diagnosis bisa berbeda. Artinya, hasil abnormal sebaiknya tidak langsung menjadi kesimpulan sebagai diagnosis tanpa evaluasi dari tenaga medis.

Cara Mencegah dan Mengatasi Sindrom Metabolik

Pencegahan dan pengelolaan sindrom metabolik berfokus pada pengendalian faktor risikonya. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan.

  • Menjaga berat badan dalam batas normal sesuai indeks massa tubuh (IMT), khususnya dengan mengurangi penumpukan lemak di area perut.

  • Aktif bergerak secara rutin, seperti bersepeda, berjalan kaki, atau aktivitas olahraga lainnya sesuai kemampuan diri. Aktivitas fisik mampu menjaga berat badan dan menurunkan risiko kolesterol, diabetes, serta penyakit kardiovaskular.

  • Memperbaiki pola makan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, sumber protein sesuai kebutuhan tubuh, makanan tinggi serat, serta membatasi garam, gula, dan lemak berlebih.

  • Berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol.

  • Menjaga kualitas tidur serta mengatasi gangguan tidur jika ada.

  • Melakukan pemeriksaan rutin agar bisa mengetahui tekanan darah, kolesterol, gula darah, dan trigliserida.

Jika mengubah gaya hidup masih belum cukup untuk mengontrol faktor risiko di atas, dokter bisa mempertimbangkan penanganan lain sesuai dengan kondisi setiap pasien, seperti untuk gula darah, tekanan darah, atau gangguan lemak darah.

Pantau Gula Darah dan Kolesterol Berkala melalui MCU

Memantau kondisi metabolik secara rutin bisa membantu Anda mengetahui perubahan gula darah serta profil lemak sebelum mengalami keluhan yang mengganggu. Salah satu pilihan yang bisa menjadi pertimbangan yaitu Paket Medical Check Up Plus dari Bumame.

Bumame menyediakan pemeriksaan kesehatan yang mencakup pengecekan kolesterol total, glukosa puasa, LDL, HDL, HbA1c, dan trigliserida. Pemeriksaan HbA1c akan memberi gambaran tentang rata-rata gula darah Anda dalam 3 bulan terakhir.

Selain pemeriksaan yang berhubungan dengan metabolisme, paket tersebut juga mencakup pemeriksaan fungsi ginjal dan hati, vitamin D, hematologi lengkap, dan urin lengkap. Layanan tersedia lewat Walk-In atau Home Care di Klinik Bumame. Dengan begitu, pemeriksaan rutin bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan aktivitas sehari-hari.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter ketika pemeriksaan rutin menunjukkan bahwa tekanan darah, gula darah, kolesterol HDL, atau trigliserida telah di luar batas normal. Konsultasi juga penting ketika Anda mempunyai beberapa faktor risiko sekaligus, khususnya riwayat penyakit jantung, diabetes, kelebihan berat badan, dan pola hidup yang kurang aktif.

Jaga Kesehatan untuk Cegah Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi yang saling berkaitan dan bisa meningkatkan risiko penyakit kronis jika tidak ditangani. Menerapkan pola makan seimbang, rutin beraktivitas fisik, menjaga berat badan, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu menjaga kondisi metabolisme tetap optimal.

Memahami faktor risiko dan mengenali perubahan kondisi tubuh sejak dini merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang. Dengan kebiasaan hidup yang lebih sehat dan pemantauan kesehatan secara rutin, risiko komplikasi akibat kelainan metabolik bisa dikelola dengan lebih baik sehingga kualitas hidup terjaga.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. World Health Organization (WHO). (2019). Noncommunicable Diseases and Their Risk Factors: Metabolic Syndrome 

  2. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2022). Metabolic Syndrome – What Is Metabolic Syndrome? 

  3. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2022). Metabolic Syndrome – Causes and Risk Factors. 

  4. Alberti, K. G. M. M., et al. (2006). Metabolic syndrome—a new world-wide definition. A Consensus Statement from the International Diabetes Federation. Diabetic Medicine, 23(5), 469–480. 

  5. World Health Organization (WHO). (2025). Noncommunicable Diseases.

  6. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2022). Metabolic Syndrome – Symptoms and Diagnosis. 

  7. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2022). Metabolic Syndrome – Living With.

  8. World Health Organization (WHO). (2024). Physical Activity. 

  9. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2022). Metabolic Syndrome – Treatment. 

Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed

Frequently Asked Question

Apa itu sindrom metabolik?
Sindrom metabolik adalah kumpulan faktor risiko seperti obesitas sentral, tekanan darah tinggi, gula darah meningkat, HDL rendah, dan trigliserida tinggi.
Apa penyebab dan faktor risiko sindrom metabolik?
Faktor yang berperan meliputi resistensi insulin, penumpukan lemak perut, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, usia, riwayat keluarga, merokok, dan kurang tidur.
Apa saja gejala sindrom metabolik?
Sindrom metabolik sering tidak menimbulkan gejala khas. Tanda yang dapat terlihat adalah lingkar pinggang membesar, sedangkan gula darah meningkat dapat menyebabkan sering buang air kecil, mudah lelah, haus, atau penglihatan kabur.
Bagaimana diagnosis sindrom metabolik dilakukan?
Diagnosis dilakukan dengan menilai lingkar pinggang, tekanan darah, gula darah puasa, trigliserida, dan kadar kolesterol HDL.
Apakah sindrom metabolik dapat dicegah?
Risikonya dapat dikurangi dengan menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, aktif bergerak, berhenti merokok, menjaga kualitas tidur, dan melakukan pemeriksaan rutin.